Sabtu lalu (15/9), Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya kedatangan tamu yang berbeda dari biasanya. Sejumlah pemuda yang merupakan anggota Gerakan Pemuda Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) wilayah Jawa Timur datang berkunjung. Mereka datang sebagai perwujudan dari salah satu program yang dirancang dalam Musyawarah Pelayan (Mupel) GPIB Jatim. Acara berlangsung dua hari dan diberi tajuk Live in Pemuda Gereja di Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.

KH Ali Maschan Moesa selaku pengasuh pesantren menyambut baik kawan-kawan muda GPIB. Ia mengajak para peserta tidak berhenti pada kerukunan, tapi harus transformasi. Siapapun yang didzalimi, sedang kekurangan hendaknya ditolong. Dalam pandangan setiap agama, ketika bersama membantu orang yang sedang kekurangan akan mendapatkan pahala.

Jadi bagaimana masing-masing agama bersama menyelesaikan masalah di Indonesia,” kata Kiai Ali Maschan. “Musuh semua umat agama bukan agama yang lain, akan tetapi pihak-pihak yang karena mau menang sendiri dan tidak mau berdialog,” lanjut Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur tersebut.

Agus Sutanto, majelis yang mendampingi pemuda GPIB tersebut menjelaskan demokrasi global saat ini berbentuk kurva, yang bisa punya titik turun yang kritis. “Ini (pertemuan lintas agama) sebuah upaya untuk menyelamatkan peradaban, agar tidak berbenturan. Hal yang sama jangan dibeda-bedakan, yang berbeda jangan disama-samakan,” terangnya.

Kegiatan pembukaan selesai hingga menjelang dini hari. Dan para pemuda GPIB menginap di pesantren setempat. Laki-laki tidur di lantai tiga, dan bagi perempuan bermalam di rumah pengasuh. Menjelang waktu Shubuh, peserta turut bangun layaknya santri beraktifitas pagi. Mereka sekilas menyaksikan santri Al-Husna melaksanakan subuh berjamaah dan mengaji kitab Tafsir Nawawi yang diasuh Kiai Ali Maschan.

Kegiatan sejak pagi hingga menjelang siang diisi dialog kebangsaan bersama Ustadz Fathul Qodir dan Pendeta Marthina Nanlohy Latupeirisa. Pada kesempatan tersebut banyak catatan dari sejumlah narasumber yang mengisi dialog, termasuk putra pengasuh, Ahmad Maududi.

Dari kaum muda GPIB ada sekitar 50 orang, yang terdiri dari 35 orang laki-laki dan 15 perempuan, ikut dalam kegiatan live in ini. Mereka merupakan perwakilan dari berbagai jemaat GPIB di sejumlah kota di wilayah Jawa Timur.

Sumber: nu.or.id

Komentar Anda

komentar