Asean Youth Interfaith Camp ini adalah salah satu program andalan untuk memasyarakatkan nilai yang kita anut bersama di ASEAN. Pesantren saya kira adalah salah satu sarana yang cukup efektif untuk upaya tersebut.

Wakil Menteri Luar Negeri RI Abdurrahman Muhammad Fachir mengatakan hal tersebut di sela pertemuan pertemuan pemuda lintas iman ASEAN atau ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2017 di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), Kabupaten  Jombang, Jawa Timur. Pertemuan ini berlangsung dari Sabtu hingga Senin (28-30/10).

Fachir pun turut menceritakan pengalamannya yang pernah menjadi santri di pesantren. “Sebagai santri, saya ingat betul bagaimana Pesantren mengajarkan saya menjadi seorang moderat, tentang toleransi, dan bagaimana menjalani hidup yang seimbang. Bekerja keras untuk dunia tapi ingat juga untuk beramal untuk akhirat. Itulah kunci untuk mencapai ketentraman, resep untuk hidup tenang,” ujar Fachir.

Kepada pemuda, Fachir menyampaikan pentingnya peranan pemuda dalam menjaga perdamaian dunia khususnya kawasan ASEAN. “Hanya melalui dialog-lah kita bisa saling mengerti. Dengan semangat inilah, Indonesia telah berinisiatif untuk memajukan dialog lintas-agama sebagai cirri khas diplomasi. Untuk itulah, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mendorong Anda sekalian menjadi duta perdamaian dan toleransi,” lanjutnya.

Kegiatan AYIC ini bagian dari rangkaian peringatan setengah abad ataHari Ulang Tahun (HUT) ASEAN. Tujuannya untuk memasyarakatkan ASEAN dan memberikan pengetahuan pada pemuda dari berbagai negara tentang pentingnya toleransi.

Sekitar 150 pemuda dari 21 negara termasuk negara anggota ASEAN mengikuti pertemuan AYIC ini. Kegiatan dibuka oleh Wamenlu Fachir. Menurutnya, Jombang dipilih sebagai tempat AYIC karena tingkat toleransi antar umat beragama yang tinggi di Kota Santri tersebut. Kondisi di Jombang tersebut sejalan dengan tema yang diusung AYIC 2017, yakni Tolerance in Diversity for ASEAN and World Harmony atau toleransi dalam keberagaman untuk perdamaian ASEAN dan dunia.

Para peserta akan mengikuti seminar, diskusi, dan mengunjungi beberapa tempat ibadah yang ada di Jombang dan Mojokerto serta berkunjung di desa yang masyarakatnya sangat plural namun penuh kedamaian dan menjunjung tinggi toleransi.

Peserta dari negara ASEAN datang dari Indonesia, Brunei Darussalam, Thailand, Kamboja, Myanmar, Malaysia, Singapura, Filipina, Laos, dan Vietnam. Sedangkan dari luar ASEAN diantaranya Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Belanda, Hongaria, Pakistan, Madagaskar, Mesir, Inggris, Libya, Lithuania, Maroko, Tanzania, dan Pakistan.

Peserta dari Belanda, Marloe Feer, mengaku senang dengan kegiatan tersebut karena bisa bertemu dan tukar pikiran dengan pemuda-pemuda dari banyak negara.

Sumber: tempo.co; tribunnews.com

Komentar Anda

komentar