Enam tahun sudah Pelita Perdamaian Cirebon berdiri. Semangat untuk kembali menggali nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal tetap dalam genggaman Pelita Perdamaian untuk menjaga kerukunan umat beragama. Kelompok pemuda yang aktif menggaungkan pluralisme dan toleransi antarumat beragama itu diiniasi oleh para tokoh lintas agama di Cirebon.

Cikal bakalnya Pelita Perdamaian ini dari Forum Sabtuan para sesepuh dari lintas agama yang mengkampanyekan soal kerukunan. Dirasa kurang efektif, karena sesepuh atau orang tua semua. Akhirnya, muncul gagasan untuk membentuk forum yang sama tapi digerakan oleh pemuda. Terbentuklah Pelita Perdamaian,” kata Abdurahman Wahid yang karib disapa Omen.

Omen menyebutkan lahirnya Pelita Perdamaian tepat pada peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2011. Pelita Perdamaian saat ini tengah menyusun hari jadinya yang ke-7. “Tahun sekarang rencananya perayaan di akhir tahun. Kita akan tampilkan seni tradisi dari berbagai kelompok agama, misal Hindu menampilkan Tari Puspanjali khas Bali, Katolik yang menekankan paduan suara, Islam yang identik dengan genjring, barongsai dari Konghucu, dan lainnya,” ucap Omen.

Pelita Perdamaian juga fokus dalam bidang pendidikan dalam menyelesaikan konflik antarumat beragama. Kendati konflik antarumat beragama di Cirebon belum begitu menonjol, menurutnya, langkah preventif sangat penting untuk dilakukan.

Tahun ini, Pelita Perdamaian telah membuat program pesantren lintas iman. Program tersebut, lanjut Omen, merupakan media alternatif dalam memberikan pemahaman tentang perbedaan dan pentingnya menjaga kerukunan antar umat beragama.

Omen menceritakan gagasan media pendidikan alternatif itu awalnya tak berjalan mulus. Penolakan dari berbagai kelompok agama pun sempat terjadi. Namun kerja kerasnya menuai hasil, sekitar bulan Maret hingga Mei lalu pesantren lintas iman berhasil digelar, tepatnya di Ponpes Bapenpori Al Istiqomah, Babakan, Ciwaringin, Cirebon.

Anak muda Kristiani belajar tentang studi Islam bagi pemula dan belajar tentang nilai kemanusian, kehidupan, dan bermasyarakat.

Awalnya ada yang agak keberatan. Karena khawatir memunculkan konflik. Kami anggap itu wajar. Pesantren lintas iman ini menghadirkan satu ruang dari smua kalangan agar bisa belajar apa pun. Tapi, hanya untuk beberapa undangan dan komunitas,” katanya.

Omen menambahkan, selain di ponpes, pesantren lintas iman juga dilaksanakan di Gereja Pamitran Kota Cirebon, dengan misi yang sama. Menurutnya, dengan saling mengenal satu sama lain melalui pesantren tersebut akan mampu memberikan pemahaman tentang pentingnya menghargai perbedaan.

Hasil pendidikan pesantren itu muncul para agen perdamaian yang aktif mengkampanyekan perdamaian di lingkungannya masing-masing. Yang saya amati, konflik antar umat beragama itu muncul karena adanya kecurigaan terhadap orang perbedaan yang ada. Selain itu, muncul karena ujaran kebencian. Kita ingin menghilangkan kecurigiaan satu sama lainnya dengan saling menengenali perbedaan itu,” paparnya.

Selain menyoroti isu perdamaian, sambung Omen, Pelita Perdamaian juga aktif menggelar aksi kemanusian. Namun, sambungnya, saat ini masih bersifat responsif. Anggota Pelita Perdamaian saat ini berjumlah 300-an dari berbagai lintas agama. Di 2014 lalu, Pelita Perdamaian merilis buku dengan judul Merayakan Perbedaan. Buku tersebut merupakan refleksi tiga tahun Pelita Perdamaian.

Setelah berhasil membuat buku, rencananya tahun ini Pelita Perdamaian akan merilis film dokumenter dengan judul Memilih Damai karena damai bukanlah suatu kondisi, akan tetapi damai merupakan suatu pilihan dalam hidup.

Damai itu suatu pilihan. Jadi, kita ini mau tidak berdamai. Berawal dari pilihan ini lah damai akan tercipta,” kata Omen.

Sumber: detik.com

Komentar Anda

komentar