Kerajaan Maroko, yang berpenduduk hampir 100 persen Muslim, telah memasarkan negara itu sebagai oase bagi toleransi beragama, meski cukup banyak wilayah Muslim yang dilanda militansi. Maroko juga telah menawarkan pelatihan kepada para pengkhotbah Muslim dari Afrika dan Eropa tentang apa yang digambarkan sebagai Islam moderat.

Itu terlihat saat Raja Maroko Mohammed VI mengundang Paus Fransiskus untuk meningkatkan visi moderat kerajaannya. Sabtu (30/3), Paus Fransiskus dan Raja Mohammed VI mengunjungi sebuah lembaga yang didirikan oleh raja tahun 2015 untuk pelatihan para imam dan pengkhotbah pria dan wanita Islam. Vatikan mengatakan bahwa kesempatan itu akan menjadi pertama kalinya seorang paus mengunjungi sekolah semacam itu.

Raja Mohammed VI mendirikan sekolah tersebut, yang dinamai dengan namanya, dan dipenuhi oleh para siswa dari Afrika dan Eropa. “Raja Mohammed VI sangat berkomitmen untuk menghambat kecenderungan fundamentalis dan ini adalah tempat yang sangat signifikan, tidak hanya untuk Maroko, tetapi untuk seluruh Magreb,” kata juru bicara Vatikan Alessandro Gisotti.

Dua imam pelajar, satu dari Eropa dan lainnya dari Afrika, akan menceritakan pengalaman mereka kepada Paus Fransiskus dan Raja Mohammed VI. Dalam sebuah pesan video kepada warga Maroko, Paus Fransiskus mengatakan bahwa dia melakukan perjalanan itu sebagai “seorang peziarah perdamaian dan persaudaraan, di dunia yang sangat membutuhkan keduanya.” Dia mengatakan bahwa umat Kristen dan Muslim harus saling menghormati perbedaan satu sama lain dan saling membantu.

Umat Katolik Roma di Maroko, kebanyakan dari mereka adalah orang asing dari Eropa, terutama dari Prancis, dan pendatang Afrika sub-Sahara, berjumlah kurang dari satu persen dari populasi berjumlah sekitar 35 juta. Dengan hanya sekitar 23.000 umat Katolik di Maroko, hampir setengah dari mereka menghadiri Misa kepausan di sebuah stadion hari Minggu (31/3).

Bonkoulou Loubaki Daria Thiphaine, pekerja sosial dari Kongo Brazzaville yang telah tinggal di Maroko selama 14 tahun menyatakan kegembirannya atas kunjungan ini. “Ya, mereka pergi ke gereja tetapi mereka bertanya pada diri sendiri apa sebenarnya bukti bahwa Maroko menerima kami sebagai orang Kristen? Saya pikir dengan kunjungan paus, semua orang akan mengerti bahwa meskipun Maroko adalah negara Muslim, umat Kristiani tetap disambut di sini,” katanya.

Vatikan menganggap perjalanan itu sebagai kelanjutan spiritual dari kunjungan bersejarah paus Fransiskus ke Uni Emirat Arab bulan Februari 2019, ketika ia menjadi paus pertama yang menginjakkan kaki di Semenanjung Arab.

Sumber: AFP

Komentar Anda

komentar