Ada dua momen peringatan nasional yang disematkan pada Pancasila. Dua-duanya dilakoni pada awal bulan.

Tanggal 1 Oktober, lebih dahulu dikenal sebagai momen peringatan kesaktian Pancasila. Dimana lewat narasi Orde Baru, momen tahun 1965 ini dirayakan kemenangan Pancasila atas upaya merongrongnya, dalam hal ini komunisme.

Belakangan, kita sadar narasi itu agak berat sebelah. Sehingga orang kembali merujuk pada momen lebih awal untuk disematkan pada narasi Pancasila.

Tanggal 1 Juni, dianggap sebagai hari lahir Pancasila. Dimana lewat pidato Bung Karno dalam sidang BPUPKI 1945, dasar negara kita ini beroleh rumusan yang jelas, untuk pertama kalinya.

Namun, kedua momen ini sebenarnya lebih menempatkan Pancasila dalam posisinya yang sakral dan tak tersentuh.

Dua-duanya kalau boleh dibilang adalah mitos yang padanya kita menaruh dasar negara.

Dalam perkembangan berbangsa dan bernegara, kita mesti sadar bahwa Pancasila tidak selalu sakti, dalam arti tidak tergerus. Ia juga tidak selalu lahir, dalam arti hadir mewujud sebagai jati diri bangsa dan elemen-elemenya.

Sakti dan lahirnya Pancasila mungkin dikaitkan pada rumusan akan nilai-nilai kekayaan tradisi kita sebagai masyarakat Nusantara.

Betapa nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah dan keadilan sudah “ada sedari dulu” dan “akan terus ada”.

Tapi jujur saja, ia tidak sakti-sakti amat. Dalam arti bukan rumusan terbaik untuk bernegara.

Banyak negara yang tidak menempatkan nilai religiusitas dan ketuhanan, misalnya, sebagai poin dasar. Dengan sedikit pengecualian beberapa negara sekuler miskin, kebanyakan negara ini toh maju-maju saja.

Sebaliknya, ada pula yang begitu gigih menonjolkan poin ketuhanan dan religiusitas sebagai syarat utama, seperti juga belakangan diseru sejumlah kelompok di negeri ini. Kenyataannya ada beberapa yang maju, tapi banyak pula yang hancur berantakan.

Poin kemanusiaan, demokrasi dan persatuan, sebagai contoh lain. Di sejumlah negara totaliter itu diabaikan. Sementara di negara yang menjunjung hal tersebut, tidak selalu bisa mengamalkannya pada semua kelompok warga.

Soal sistem ekonomi? Keadilan sosial yang cukup lekat dengan cita-cita sosialisme juga sering kali jadi utopia, apalagi kalau negara tak mampu mencapai kemajuan ekonomi.

Coba lebih jauh kita telaah persaingan ideologis kekuasaan dunia, antar alternatif ideology demokrasi-kapitalisme-liberalisme ala Amerika, perkawinan sistem politik komunis dan ekonomi kapitalis ala Tiongkok atau populisme-nasionalis ala Rusia.

Atau tolehlah demokrasi-sosialis-progresif ala negara-negara Skandinavia atau tradisi-modernitas ala Jepang. Bahkan totaliterianisme-disiplin ala Singapura, hingga ideologi komunis dan tradisi ala Vietnam.

Rasanya Pancasila tidak ada sakti-saktinya kalau dibanding kuat ideologi mereka menopang kekuasaan dan kemapanan negara.

Kita berkali-kali megap-megap. Hanya bisa berkata kalau Pancasila bukan yang ini, bukan pula yang itu, tapi tidak bisa menunjukkan yang mana.

Kita boleh berdalih, bahwa Pancasila itu memang cocoknya untuk kita. Namun, kalau boleh jujur, nilai-nilai itu barangkali tidak pernah benar-benar lahir di Indonesia.

Kita bisa mengaku religius dan ber-Tuhan. Survey Pew Research beberapa tahun lalu memasukkan Indonesia, bersama Etiopia, sebagai negara yang lebih dari 90% masyarakatnya amat memandang penting agama.

Tapi, bisa jadi itu semata simbolik, bukan sebagai nilai, lebih sebagai tampilan.

Pada kenyataannya kebebasan beragama di negeri kita, misalnya, kalah jauh dengan negara-negara yang katanya sekuler.

Lebih parah, ajaran agama yang menyeru kebaikan dan menolak kejahatan ternyata tak mewujud dalam kesalehan sosial. Silahkan menyebut tingkat korupsi, penyalahgunaan wewenang, ketidakdisiplinan warga, hampir semuanya rapor kita kalau tidak biasa saja, ya merah.

Jangan bicara soal bagusnya rapor kemanusiaan kita. Jangan pula soal persatuan, demokrasi atau keadilan sosial.

Rasanya kita bisa menyebut negara seperti Korea Selatan, Finlandia, Selandia Baru atau Kanada yang jauh lebih bagus menerapkan keempat nilai ini ketimbang kita. Rumusan Pancasila bisa jadi jauh lebih tepat bila disebut lahir disana.

Maka alih-alih sekedar berseremoni mengaul-aulkan lahir dan saktinya Pancasila, mungkin ada baiknya kita mengakui kenyataan.

Rumusan-rumusan cantik nilai-nilai luhur ini baru ada di seremoni, simbol, hafalan dan harapan kita. Masih sangat sedikit sekali ada di laku dan sikap kita.

Tepat disitu ia tidak lahir, tidak juga sakti, melainkan tumpul di angan.

Sumber: FOKAL

Komentar Anda

komentar