Saat ini, sulit rasanya menemukan sosok yang benar-benar konsisten memperjuangkan kehidupan masyarakat yang hidup di bawah standar kelayakan selama bertahun-tahun. Di tengah krisis tokoh tersebut adalah seorang bapak bernama Ahmad Bahruddin. Pria kelahiran Salatiga, 9 Februari 1965 ini rela menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memperjuangkan kehidupan masyarakat di kaki Gunung Merbabu, Kecamatan Tingkir, Salatiga, Jawa Tengah.

Masyarakat di kaki Gunung Merbabu hidup dari sektor pertanian. Namun, rendahnya pendidikan menjadi penghalang masyarakat untuk hidup layak. Miskin dan terpinggirkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di desa tersebut. Berkaca dari hal itu, Pak Din bersemangat untuk melakukan sesuatu yang bisa mendobrak keadaan dan membawa masyarakat menikmati kehidupan yang layak.

Sejak tahun 1999, beliau melancarkan aksinya untuk mengubah nasib petani dengan menginisiasi pendirian Serikat Paguyuban Tani Qoryah Thayyibah. Dengan membawa semangat dan mental berdikari, Pak Din berbagi kiat dan penggunaan teknologi untuk pertanian. Cita-citanya sederhana, ia ingin membangun sebuah desa yang mandiri dan mampu memanfaatkan potensi lokal dalam angka yang maksimal.  Hingga tahun 2013, kegiatan itu terus berkembang dan menjadi pondasi berdirinya sekolah non-formal yang menampung anak-anak petani setempat untuk belajar dan bertukar informasi di dalamnya.

Sekolah non-formal yang digagasnya, di konsep sedemikian rupa hingga terlihat menyenangkan. Anak-anak bahkan dibebaskan untuk memilih sendiri apa yang menarik untuk dipelajari. Mulai dari membuat komik, majalah dan film dokumenter pun difasilitasi beliau. Cara belajar yang demikian, ternyata efektif meningkatkan semangat anak-anak. Bahkan prestasi anak di komunitas belajar tersebut mampu mengimbangi anak-anak yang menimba ilmu di sekolah formal. Di akhir tahun ajaran, anak-anak petani ini diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian kesetaraan program paket B dan C.

Baca juga  Rudi Fofid: Menulis dengan Tinta Cinta

Pendidikan non-formal yang diciptakan dengan memberikan ruang kebebasan terhadap minat anak terbukti berdampak baik. Tak hanya anak petani setempat, kini rumah belajar itu ramai didatangi anak-anak dari desa lain. Pak Din sukses membawa anak-anak mencintai pendidikan dan impiannya pun kini satu demi satu terwujud. Kualitas sumber daya manusia meningkat, perekonomian yang kian membaik tak hanya dirasakan satu desa saja, melainkan sudah menjalar ke seantero Jawa Tengah. Tak kurang dari 17 ribu keluarga petani kini bergabung dalam serikat petani yang didirikannya.

Semangat dan kerja keras tokoh muda NU ini bahkan di sambut positif dan diapresiasi banyak pihak baik tingkat provinsi dan nasional. Tahun 2012, Pak Din didaulat untuk menerima Maarif Award dari Maarif Institue for Culture and Humanity, Kerja kerasnya selama kurang lebih 17 tahun berbuah manis dan menjadi berkah bagi banyak orang. Sosoknya yang sederhana tanpa memandang perbedaan agama membuatnya semakin dicintai banyak orang. Sungguh, Pak Din adalah sosok yang sangat menginspirasi.

Sumber:
http://news.liputan6.com/read/2316328/ahmad-bahruddin-memajukan-kaum-tani-di-salatiga
http://maarifinstitute.org/id/maarif-award/penerima-maarif-award/6/penerima-maarif-award-2012—-ahmad-bahruddin

Bagikan

Komentar Anda

komentar