Nabila begitu bersemangat memulai Minggu pagi (29/4) itu. Sejak bangun dari tidur ia berkali-kali mengingatkan orang tuanya kalau ia akan ikut outing yang diselenggarakan Rumah Belajar Pensil, Kebon Pisang, Sumur Bandung. Berbeda dengan beberapa outing sebelumnya yang mengunjungi museum, kali ini rumah belajar tempat mereka menimba ilmu tiap akhir pekan itu, berencana mengadakan kunjungan ke rumah-rumah ibadah.

Tentu saja itu pengalaman yang terbilang baru buat Nabila dan sekitar dua puluhan rekannya. Di rumah belajar yang merupakan binaan GKI Taman Cibunut bagi warga sekitar itu, pengenalan keberagaman merupakan upaya yang baru dirintis. Tidak hanya untuk anak-anak, rencana mereka ini pun disambut baik oleh orang tua, maupun pemimpin warga setempat.

Ya, kesempatan seperti ini mungkin jarang sekali buat anak-anak,” komentar Rima, salah seorang orang tua yang turut serta dalam outing.

Memang bagi anak usia 8-11 tahun ini, kesempatan itu terbilang jarang. Sebagai anak-anak yang tumbuh kembang sebagai di keluarga dan lingkungan yang kebanyakan beragama Islam, mereka kurang berkesempatan untuk berkunjung ke kelenteng, vihara, taokwan, kongmiao atau gereja, yang menjadi tempat kunjungan mereka kali ini.

Ada tujuh rumah ibadah di sekitar Jl. Kelenteng Bandung yang mereka kunjungi. Di jalur yang dipopulerkan dengan nama Jalur Bhinneka dan dinobatkan sebagai salah satu kampung toleransi di Bandung ini, memang cukup beragam rumah ibadah yang bisa dikunjungi.

Rumah ibadah yang mereka kunjungi pun dengan bersemangat menyambut kedatangan anak-anak ini. Di Kelenteng besar Bandung misalnya, siswa-siswi Sekolah Minggu Buddhis bahkan dengan antusias menyambut mereka, ikut bermain bersama dan berkeliling mengunjungi situs yang sudah menjadi warisan budaya kota Bandung ini.

Senang sekali, ini juga momen yang baik buat anak-anak Sekolah Minggu Buddhis, mereka bisa bermain dengan rekannya yang berbeda,” sambut Tanto, pengajar sekolah minggu Buddhis di Vihara Satya Budhi, salah satu vihara di Kompleks Kelenteng Besar.

Tanto dan para pengurus lain dari rumah ibadah yang dikunjungi juga mengaku ada tantangan tersendiri saat menjelaskan tentang ritual dan konsep agama mereka pada anak-anak.

Pertanyaan mereka itu polos, tapi tidak jarang pula sangat kritis, saya saja sempat nggak kepikiran bagaimana pertanyaan itu muncul,” komentar Donatus, salah seorang pengajar di Paroki St. Mikael Bandung. Donatus juga senang sekali bisa memperkenalkan keragaman pada anak-anak sejak usia dini. Hal yang menurutnya perlu untuk terus dirintis. **arms

Komentar Anda

komentar