Sampai hari Kamis (15/3) ogoh-ogoh itu masih dibuat, bentuknya belum sempurna. Ornamen, yang dalam Agama Hindu dianggap sebagai lambang keangkaramurkaan itu sedang digarap oleh Mahendra Eka (19). Ia masih memperbaiki pewarnaan di bagian perut dan pinggang, di depan rumahnya, Kampung Karang Tengah, Desa Glanggang, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Ogoh-ogoh itu terbuat dari bambu dengan dilapisi kertas. Warnanya kuning tua. Meski tanpa kepala, bentuk ogoh-ogoh itu sudah mencerminkan makhluk yang menakutkan. “Kepalanya belum ada. Hanya tinggal kepalanya yang belum,” katanya.

Berjarak sekitar 50 meter, ada ogoh-ogoh yang sudah sempurna berdiri tegak di pingggir jalan. Warnanya hijau. Seorang perempuan terlihat menghiasi ogoh-ogoh itu dengan memberinya kain di pinggangnya. Tidak jauh setelahnya, ogoh-ogoh berbentuk naga juga sudah berdiri sempurna. Hanya saja, pembuat ogoh-ogoh itu masih terlihat memperbaiki letak hiasan di bagian dada ogoh-ogoh.

Jelang Hari Raya Nyepi tahun 1940 Saka yang jatuh pada Sabtu nanti (17/3), direncanakan akan ada sekitar 40 ogoh-ogoh di perkampungan itu. Ogoh-ogoh tersebut akan diarak berkekeliling kampung dan akan dibakar di lapangan, sesaat sebelum Catur Barata Penyepian dimulai.

Kampung Toleransi Karang Tengah merupakan kampung di Desa Glanggang yang memiliki penduduk beragam. Selain penduduk beragama Islam, kampung itu juga memiliki penduduk beragama Hindu. Jumlahnya tidak sedikit, sekitar 150-an kepala keluarga (KK). Selain itu, juga ada penduduk beragama Protestan dan Katolik.

Hidup berdampingan antar umat beragama di Kampung Karang Tengah tidak tercipta begitu saja. Sayan, kenduri, dan jiwa saling menghargai mengiringi perjalanan kerukunan antar umat beragama tersebut. Sayan merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan aktivitas gotong royong dan saling menolong. Sedangkan kenduri atau selametan adalah perjamuan makanan untuk memperingati hal-hal tertentu atau untuk meminta berkah.

Dalam aktivitas tolong menolong, penduduk di Kampung Karang Tengah tidak pernah memandang agama. Semua bersatu untuk saling menolong satu sama lain. Begitu juga dengan kenduri. Jika yang mengadakannya adalah penduduk beragama Islam, penduduk yang beragama lain juga diundang. Begitu juga sebaliknya.

Tidak lihat agamanya. Kita sama-sama menolong. Kenduri itu pun terjadi tidak tebang pilih. Jadi kalau umat Islam mengadakan seperti itu, Umat Hindu datang,” jelas Agus.

Keharmonisan antar pemeluk agama juga terlihat pada hari raya keagamaan. Seperti saat Hari Raya Nyepi yang sebentar lagi tiba. Umat non Hindu akan turut mematikan lampu dan ikut berada dalam kesunyian. Tidak sekedar itu, setiap menjelang hari raya keagamaan selalu diadakan gugur gunung. Yakni kerja bakti membersihkan lingkungan dan pemakaman oleh seluruh penduduk kampung.

Sumber: kompas.com

Komentar Anda

komentar