Dalam Convey Day yang diselenggarakan oleh Convey Indonesia pada Jumat 5 Maret 2021, Najwa Shihab menceritakan tentang pengalaman toleransi dalam hidupnya.

Ia memulai pemaparannya dengan penyataan bahwa Indonesia harus memperkuat dirinya sendiri. Salah satu caranya adalah dengan memperkuat toleransi merayakan perbedaan dan melihat keragaman sebagai kekayaan bangsa.

Bagi  Najwa, ada sekian hal yang bisa mempersatukan dan hal tersebut tak selalu yang indah dan menyenangkan. Kita bisa dipersatukan bahkan oleh permasalahan. Pandemi Covid-19 sebenarnya adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa ternyata kita saling membutuhkan.

Betapa bersama adalah cara bertahan menyepakati perbedaan memang tidak gampang yang tumbuh secara instan. Dibutuhkan toleransi, sebuah kata yang seperti lalat terdengar dengung tapi tak selalu kita raih dan wujudkan.

Najwa melanjutkan, toleransi harus dialami dan diajarkan atau disosialisasikan salah satunya lewat pengalaman hidup menjadi minoritas. Najwa merasa beruntung pernah mendapatkan pengalaman idalam usia yang relatif muda.

Usia Najwa 16 tahun saat mengikuti program pertukaran pelajar, ia lalu hidup dan tinggal di Amerika Serikat.  Ia tinggal di keluarga penganut Katolik yang taat bahkan menjadi satu-satunya muslim di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.

Najwa terekspos dalam beragam situasi dan muncul banyak pertanyaan hingga tudingan. Ia juga merasakan langsung keterbukaan dan penerimaan termasuk disiapkan makanan sahur setiap malam oleh ibu angkatnya yang beragama Katolik, juga ditemani puasa, diantar ke masjid di luar kota yang jauh untuk salat dan merayakan lebaran bersama komunitas muslim.

Namun di sisi lain, Najwa mengaku pernah dibully saat salat di perpustakaan sekolah. Ia selalu diajarkan oleh orang tua untuk tidak boleh pilih-pilih teman. Ia memperoleh pelajaran tersebur dari didikan sang kakek, Habib Abdurrahman Shihab.

Baca juga:  Pusat Ibadah Lintas Agama di Berlin Segera Dibangun

Najwa bercerita bahwa sejak dulu, rumah Abi di Makassar memang selalu dengan sahabat-sahabat habis dari berbagai kalangan termasuk para non-muslim. Keluarga Najwa selalu berinteraksi dengan beragam kalangan.

Sang Habib Abdurrahman Shihab juga mengajarkan anak laki-laki berjalan bersama ke masjid masjid. Biasanya, Habib meminta anak-anak Masuk dari pintu yang berbeda-beda.

Hal tersebut adalah salah satu cara Habib mengajari anak-anaknya untuk melihat segala sesuatu secara seksama tidak hanya dari satu sisi tidak sepotong-sepotong.

Pentingnya Sikap Toleran
Dalam ritual keagamaan, Najwa juga mengatakan bahwa Abi menekankan titik pentingnya sikap toleran dan menjauhi fanatisme kebenaran dalam agama yang bisa beragam. Satu-satunya cara untuk hidup harmonis adalah mengedepankan toleransi tanpa melunturkan keyakinan.

Habib Abdurrahman juga tahu pentingnya menuntut ilmu dan pendidikan tinggi. “Abah tidak akan meninggalkan harta buat kalian tapi semoga bekal pendidikan dapat Abah usahakan.” Kata Najwa.

Cinta ilmu dan pentingnya bergaul dengan beragam kalangan itu jugalah nilai yang dijunjung tinggi oleh Habib Quraisy. Hasil didikan itu pula yang diajarkan kepada Najwa beserta kakak dan adiknya.

Najwa diizinkan pergi setahun ke Amerika Serikat saat masih remaja padahal banyak orang yang berkata pada saat itu, “anak perempuan remaja kok dibolehkan ke Amerika, tinggal dengan orang yang tidak dikenal, nonmuslim lagi,” ujar Najwa melanjutkan ceritanya.

Najwa Shihab melanjutkan bahwa ia beruntung menjadi wartawan selama 17 tahun sebab punya kesempatan untuk melihat langsung peristiwa yang memengaruhi lanskap dunia. Ia juga melihat dari dekat aksi terorisme, bencana alam, perang konflik dan lain sebagainya.

Bagi Najwa, hidup di dunia sangatlah kompleks. Karenanya, kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang beragam itu sangat penting. Ia percaya bahwa pemimpin masa kini dan masa depan adalah orang yang memiliki kemampuan berkomunikasi melampaui batas-batas budaya.

Baca juga:  Diterima di FLADS, Bukan Kerukunan Basa-basi

Selain itu, bukan hanya sebatas jago berbahasa asing tapi juga peka terhadap sensitifitas budaya lain, punya insting untuk selalu mencari common ground, memiliki pikiran yang terbuka dan perspektif yang luas.

Pengalaman Najwa memungkinkannya untuk berbicara dengan sosok-sosok yang tidak biasa dengan latar belakang dan situasi beragam. Kadang-kadang ekstrem mulai dari pemimpin yang berpengaruh, presiden, aktivis, pahlawan, penyintas, tapi juga ia berbincang dengan koruptor dengan hukuman mati.

Dari pertemuan tersebut, Najwa mulai mengenali karakter dari sosok-sosok tersebut. Sosok pemimpin yang dicintai rakyat atau orang-orang biasa yang punya determinasi luar biasa.

Bagi Najwab, mereka adalah kepala-kepala yang mau mendengarkan orang lain dan tidak memaksakan kehendak atau melihat dari perspektif yang berbeda dan sadar masing-masing dari kita adalah orang yang perlu mencari gol bersama yang mempersatukan.

Najwa menutup pemaparannya dengan kalimat ajakan sebagai berikut: “Teman-teman, mari memulainya dengan sederhana. Menyadari ada sejuta fakta yang tak bisa dilihat hanya dari sepasang mata. Kita memang berbeda tapi kita tetap bersama.”

Sumber: Kabardamai.id

Bagikan

Komentar Anda

komentar