Selain sosok yang sudah terkenal “dimiliki bersama” seperti Adam, Hawa, atau Ibrahim, ada sosok lain yang dihayati secara unik di tradisi Ibrahimik, yaitu figur Nabi Ilyas/Elia (Ibrani: Eliyahu, Inggris: Elijah).

Di setiap upacara penyunatan bayi Yahudi, misalnya, selalu disediakan satu kursi, yang diberi keterangan: “Inilah kursi Elia (Ha kishe syel Eliyahu).” Menurut uraian rabbinik, tradisi ini merupakan jawaban Elia, yang mengira hanya dirinya pelayan Tuhan di Israel (1 Raja-raja 19: 10-18). Jadi setiap kali penyunatan, Elia dijadikan saksi bahwa masih banyak umat Israel yang memegang teguh perjanjian dengan Tuhan.

Tradisi Paskah Yahudi juga menenekankan Elia sebagai utusan pendahulu Mesias. Ada cawan kelima yang dibiarkan kosong dan pintu yang dibuat terbuka, untuk kehadirannya, selama jamuan makan Paskah.

Contoh Kursi Nabi Ilyas di tradisi Sunat Yahudi

Ketergantungan hidup sepenuhnya pada Tuhan serta kehidupan yang saleh, membuat Elia banyak dijadikan teladan. Namanya dipakai dalam sejumlah gerakan keagamaan Kristiani. Mulai dari ordo Karmelit (Katolik) yang mengambil nama dari tempat Elia menantang orang-orang yang mempersekutukan Allah, hingga sejumlah gerakan kharismatik yang menekankan peran kenabian Elia. Dalam tradisi kekristenan, kenabian Elia dihayati sebagai bentuk kesalehan yang membuka perjanjian baru. Sosoknya diparalelkan dengan Yohanes Pembaptis.

**

Penghormatan pada Elia tidak terbatas pada tradisi Kristiani dan Yudaisme. Agama Islam dan Baha’i juga memberi tempat khusus pada nabi ini.

Dalam tradisi Islam, perannya sebagai utusan Allah yang saleh sangat diakui (As-Shaffat: 123-132). Beberapa riwayat menganggap Nabi Ilyas punya garis keterkaitan spiritual dengan Nabi Zakaria, Yahya dan Isa. Namanya juga populer di tarekat Sufistik, sering dikaitkan dengan sosok Nabi Khidr.

Demikian pula dalam tradisi Baha’i, peran Elia dianggap sama seperti Yohanes Pembaptis bagi Yesus dan Sang Bab bagi Bahaullah. Sosok yang membuka jalan bagi kedatangan masa kenabian yang baru. Bahkan Bahaullah sendiri mengamanatkan agar makam jenazah Sang Bab, pendahulunya, dimakamkan di Gunung Karmel, tempat Nabi Ilyas berkarya.

**

Beragam penghormatan ini yang membuat sosok Nabi Ilyas dianggap pemersatu. Di Bosnia-Herzegovina, misalnya, sejak pertengahan abad ke-18, sosoknya dijadikan sebagai patron saleh pelindung dan pemersatu wilayah yang terdiri dari komunitas Muslim, Katolik, Ortodoks dan Yahudi itu.

Anthropolog Bosnia, Safet HadžiMuhamedović, menunjukkan dalam kajiannya bagaimana sosok Elia dianggap sebagai pengharapan, oleh komunitas Muslim dan Kristiani disana (umat Kristiani Bosnia menyebutnya Ilija, sementara umat Muslim Alija).

Narasi bahwa Elia terangkat ke surga dengan kereta yang berapi, membuatnya terasosiasi dengan sosok Perun, dewa Slavik kuno, nenek moyang orang Bosnia. Demikian pula dimensi pembaharu-ilahi dalam sosoknya yang dikaitkan dengan Khidr di Islam, maupun Yohanes Pembaptis di Kristen – membuat Nabi Ilyas menjadi pengharapan dan pembaharu keadaan yang porak-poranda sehabis perang Balkan.

Hari Nabi Ilyas di Bosnia

Perpaduan unik itu menghidupkan tradisi Bosnia. Ada hari yang dirayakan sebagai Hari Elia (Iliadun/Aliadun), yaitu 2 Agustus. Dari perayaan ini muncullah idiom khas Bosnia, “Do podne Ilija, od podne Alija” (Ilija hingga tengah hari, Alija dari tengah hari).

Perayaan itu sebenarnya terbilang kompetitif. Di wilayah yang merupakan paduan komunitas Islam-Kristen, umat Muslim berkumpul dari pagi hingga tengah hari, lalu selepas mereka menunaikan shalat dzuhur, umat Kristiani datang bergabung dengan barisan yang terpisah. Lalu kedua kelompok menampilkan tarian, musik, dan bazaar masing-masing. Ini merupakan kesadaran mereka akan pentingnya koeksistensi, meski hal itu berarti selalu ada potensi untuk kompetisi dan konflik.

Lepas dari dimensi spiritualnya, narasi Yudeo-Kristiani juga menggambarkan sisi emosional Elia. Hal yang membuat ia menjadi subyek kajian psikologis dan karya seni, tidak terbatas pada kajian religius. Carl Jung menjadikannya sebagai salah satu sosok dalam Buku Baca-nya. Demikian pula komponis Jerman Felix Mendelssohn hingga novelis Paulo Coelho tak bisa melewatkan sosok Elia untuk karya mereka. Umumnya karya-karya “sekuler” ini tetap memberi tempat yang positif dalam menghayati pribadinya.

Jadilah, Nabi Ilyas/Elia ini jadi contoh unik bagaimana berbagai narasinya di sejumlah tradisi menjadi berkelindan, sekaligus saling memperkaya. **arms

Komentar Anda

komentar