Salah satu komitmen Indonesia untuk menciptakan dan memelihara perdamaian dunia lewat dialog agama dan budaya, terlihat saat Indonesia menyelenggarakan kegiatan Dialog Lintas Agama dan Budaya yang melibatkan lima negara – yaitu Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia – yang disingkat MIKTA.

Pertemuan MIKTA yang merupakan kali kedua ini berlangsung di Kota Malang selama Rabu hingga Jumat (17-19/10). Ini merupakan kerja sama lintas kementerian, antara Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama RI.

Saat membuka dialog, Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Diaspora, Dewi Wahab, menegaskan bahwa agama perlu menjadi pemersatu untuk mengembangkan harmoni dan toleransi sosial bukan untuk membedakan atau memecah.

MIKTA sebagai kelompok negara juga dapat memberikan solusi dalam pembahasan isu radikalisme dan terorisme,” ujar Dewi.

Sementara itu Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Kementerian Agama, Feri Meldi, mengharapkan penyelenggaraan kegiatan ini adalah bentuk kontribusi aktif Indonesia untuk kemajuan dan kerja sama antarpemeluk agama. Feri pun berharap peran semua pihak baik pemerintah, pemuka agama, tokoh masyarakat maupun media massa akan sangat membantu untuk menciptakan nilai-nilai harmonisasi dan toleransi serta perdamaian.

Kegiatan ini diisi dialog yang membahas isu-isu terkait keberagaman budaya dan agama serta penanganan ancaman radikalisme, terorisme dan intoleransi. Dialog menghadirkan para ahli dari kelima negara MIKTA.

Agar pesan dan hasil kegiatan ini diketahui, dirasakan manfaatnya dan diimplementasikan masyarakat lintas agama di Indonesia, turut hadir pula sebagai peserta aktif dalam fórum diskusi dimaksud yakni perwakilan dari tokoh-tokoh lintas-agama, akademisi dan pejabat instansi terkait.

MIKTA merupakan kerja sama inovatif yang terdiri dari Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia. Kerja sama ini terbentuk sebagai kesepakatan tiap negara, pada tahun 2013 di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB. Kegiatan MIKTA Interfaith-Intercultural Dialogue yang pertama pernah diadakan tahun 2016 di Yogyakarta, dengan menyuarakan pentingnya forum dialog antaragama dan antar budaya.

Kegiatan kali ini yang  mengambil tema “Strengthening MIKTA’s Partnership: Interfaith-Intercultural Dialogues and Combatting Terrorism,” merupakan bagian dari program Indonesia sebagai ketua di MIKTA pada tahun 2018. Tema besar keketuaan Indonesia di MIKTA untuk 2018 adalah Fostering Creative Economy and Contributing to Global Peace.

Dialog Lintas Agama telah menjadi fitur tetap diplomasi publik Indonesia sejak 2004. Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 31 mitra bilateral Dialog Lintas Agama. Selain dengan MIKTA, Indonesia juga aktif mempromosikan Dialog Lintas Agama pada tataran regional melalui arsitektur kerja sama kawasan dan lintas-kawasan, seperti pada fórum APEC dan ASEM, serta pada tataran global/multilateral, seperti melalui fórum UNAOC.

Sumber: viva.co.id

Komentar Anda

komentar