Di Banjar Piling Kanginan, ada tradisi toleransi yang menarik. Dimana umat Kristen dan Hindu hidup bersama dalam kerukunan. Ketika peringatan hari raya keagamaan masing-masing , mereka berbagi makanan, yang terkenal dengan istilah Ngejot. Karena itu bertepatan dengan Hari Raya Galungan pada 14 April 2021, warga Hindu ngejot (berbagi) makanan dengan warga yang menganut agama Kristen.

Warga Banjar Piling Kanginan, Desa Mengesta, Kecamatan Penebel, Tabanan, contohnya mereka disibukkan dengan persiapan mengolah bahan makanan yang terutama adalah babi. Para peremuan disibukka melakukan metanding (menyiapkan) dan meperispakan jajanan.

Mereka menyiapkan panganan dan sarana upacara untuk menyambut Hari Raya Galungan. Olahan daging tersebut dinikmati bersama keluarga, setelah diolah menjadi lawar, gorengan, sate, dan lainnya.

Kelian Banjar Dinas Piling Kanginan, I Wayan Agus Setiawan mengungkapkan tradisi ngejot masih tetap dilestarikan meskiun dalam keadaan pandemic Covid-19. Selain berbagi olahan daging, warga juga berbagi jajananan Bali yaitu Jaje Uli.

“Hingga saat ini kita masih tetap melestarikan tradisi yang ada di wilayah kami, yakni ngejot. Kegiatannya masih sama seperti sebelumnya, hanya saja yang berbeda sekarang yang ngejot menggunakan masker sebagai wujud penerapan protokol kesehatan,” kata Agus Setiawan, Rabu (14/4/2021).

Ngejot sendiri merupakan budaya setempat yang sudah berlangsung secara turun temurun. Tradisi ini memang selalu dilakukan setiap Hari Raya Galungan tetapi umat Kristiani juga menjadikan tradisi ini jadi dua arah dan timbal balik dengan berbagi juga terhadap umat Hindu setiap perayaan  Hari Natal.

Wayan menyatakan meskipun berbeda keyakinan umat Kristen dan Hindu di Bali selalu memiliki keterikatan yang erat, bahkan banyak yang menikah meskipun beda agama.

“Setiap Galungan kami ngejot untuk nyama kristen disini. Begitu juga sebaliknya kami mendapat jotan ketika Hari Natal, Kami juga sudah membentuk sebuah wadah bernama suka duka, jadi tidak ada yang membedakan semua warga juga ikut dalam berkegiatan baik itu sosial, budaya, dab lainnya juga,” tuturnya.

Baca juga:  Telak Tanpa Bertele-tele, Menag Imbau Pegawai BUMN Yang Benci Pemerintah Segera Keluar

Ngejot atau Jotan sendiri adalah sebuah tradisi di Bali dalam bentuk persembahan setelah memasak dan juga dalam rangkaian upacara yadnya kepada sanak keluarga/saudara, tetangga maupun pada masyarakat sekitar dalam rangka meningkatkan kebersamaan atas terwujudnya upacara tersebut.

Jotan dalam bentuk segehan utawi banten saiban sebagai ungkapan terima kasih atau rasa syukur masyarakat Hindu Bali kepada Tuhan.

Ngejot kepada masyarakat atau kepada sanak saudaranya sebagai rasa permakluman dan sekaligus sebagai undangan kepada yang diberi jotan bahwa yang ngejot tersebut memiliki upacara tertentu.

Dalam tradisi ngejot di Bali disebutkan bahwa ngejot kepada masyarakat, biasanya yang diberikan jotan tersebut berupa makanan (sepertinasi berisi bermacam olahan seperti misalnya lawar, sate, jukut-jukut, be nyuh atau yang lain sesuai dengan keinginan yang ngejot tersebut) dimana tradisi tersebut terkait dengan adanya suatu acara adat atau upacara yadnya tertentu yang dilaksanakan dimiliki oleh seseorang atau keluarga.

Ngejot kepada masyarakat itu sendiri juga disebutkan memiliki fungsi:

  • Sebagai rasa permakluman kepada yang diberi jotan bahwa yang ngejot tersebut memiliki acara tertentu.
  • Sebagai undangan untuk datang ke tempat orang yang ngejot tersebut.
  • Sebagai tanda ucapan terima kasih karena yang diberi jotan tersebut telah membantu dalam penyelesaian sebuah upacara tertentu yang dilakukan oleh orang yang memberi jotan tersebut.

Sumber: kabardamai.id, RadarBali, Travelkompas, Genpi
Sumber Foto: Detik

Bagikan

Komentar Anda

komentar