Ratusan berita dapat dengan mudahnya ‘digoreng’ dan disajikan tiap harinya. Mulai dari hidangan di atas piring yang menggugah lidah hingga urusan dapur selebriti yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik.

Pola konten dalam media sosial menjadi 1-9, yakni 1 content creator atau pembuat konten dan 9 lainnya adalah penikmat konten tersebut. Tentu, dengan banyaknya masalah yang dihadirkan tiap harinya, cukup mampu untuk mengacak-acak pola kehidupan bermasyarakat dan juga pada sistem pembelajaran. Siswa menjadi salah satu cakupan fenomena ini.

Siswa diharapkan menjadi agen dalam mendamaikan dua dimensi ini: dunia nyata dan maya. Agen-agen perdamaian tak sebanding dengan jumlah pemilik jari yang setiap detiknya menyuarakan permusuhan. Namun, meneruskan misi ini pada siswa juga tak ada salahnya. Tetapi, tentu ini tantangan yang menjadi tanggung jawab bagi kita semua, utamanya peran tenaga pendidik dalam menghadirkan isu ini di sekat-sekat kelas.

Keterlibatan saya dalam dunia digital, interaksi dengan pemuda-pemuda di Kabupaten Bone, serta beberapa program kepemudaan memberikan setidaknya beberapa masukan terkait indikasi munculnya bahasa vitriolic dan bigotry (kefanatikan) yang amat mudah bertebaran dalam media sosial.

Ada tiga faktor yang saya sajikan, yang telah perlahan menggerogoti generasi masa sekarang.

FOMO (Fear of Missing Out)

Menjadi hits tentu menjadi cita-cita beberapa kawula muda. Keinginan untuk tetap “hadir” dalam setiap perbincangan di media sosial merupakan sebuah tekanan yang kadang menjadi alasan mudahnya berita-berita palsu dan kebencian bermunculan.

Generasi Y bahkan Z akan menjadi amat inferior ketika tidak menyebar berita up to date sementara rekan-rekan mereka telah berjibaku dengan hashtag dan mention yang jumlahnya menutupi setengah dari caption mereka. Selain itu, perasaan sensitif ikut berkontribusi dalam penyebaran berita yang perlu double-check dahulu.

Kejadian-kejadian nahas seringkali membuat seseorang refleks mengunggah, memberikan belasungkawa, dan menyerang pihak lain yang diduga menjadi penyebab tragedi tersebut dengan kata-kata yang tak kalah nahas. Bagi mereka yang telah tenggelam dalam popularitas, merupakan sebuah tantangan ketika mereka diharuskan melakukan pengecekan ulang terhadap hal-hal yang sifatnya cukup ilmiah.

Tidaklah mengherankan jika akhirnya hal-hal krusial dianggap receh karena ketaksadaran untuk memantau informasi tersebut lebih jauh. Fenomena FOMO ini pun semakin menggurita dengan bertambahnya media sosial dan alpanya ruang-ruang kelas mendiskusikan topik kekinian ini.

Confirmation Bias

Dalam buku The Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli, confirmation bias disebutkan menjadi ratu dari segala miskonsepsi. Confirmation bias melihat sebuah kasus/fenomena berdasarkan asas yang mereka bangun sendiri. Seseorang tidak melihat sebuah informasi dengan objektif karena sudah ada pattern tersendiri yang terbangun sebelumnya.

Seseorang mengambil sebuah simpulan yang dapat menyenangkan diri sendiri karena sesuai dengan praduga yang mereka bangun. Hingga akhirnya seseorang menjadi terpenjara dalam asumsi sendiri. Kasus presidensial kemarin misalnya, menjadi sangat seru karena banyak isu yang berhasil digoreng dan menyalakkan confirmation bias seseorang menjadi lebih besar.

Para pengguna media tak bisa mencium kebaikan dari rival mereka karena seolah-olah tidak layak diberi likes, sementara seburuk apapun citra yang idola mereka dapatkan, tetap saja akan mereka putarbalikkan.

Melihat fenomena di atas, siswa perlu mengetahui beberapa aspek dalam menyikapi hal tersebut. Hal ini pun sejalan dengan kurikulum pendidikan yang memang asasnya terbagi menjadi tiga, yakni explicit curriculum, implicit curriculum, dan hidden atau null curriculum. Pada poin ketiga inilah, pembelajaran mengenai social media literacy perlu dihadirkan.

Membangun sikap kritis tentu diperlukan dalam membaca setiap aspek kehidupan baik di dunia nyata ataupun maya. Tetapi, dengan porsi informasi yang kebanyakan datang dari dunia maya, literasi ini perlu dipertimbangkan untuk tenaga pengajar dan siswa sebagai pengguna yang mendominasi fungsi internet ini.

CCC (Criticality on Counter-Narrative Content)

CCC merupakan sebuah upaya yang mendorong sikap kritis dalam membaca atau merespons konten-konten yang bertebaran di dunia maya.

Melarang konten-konten negatif bertebaran dalam dunia maya merupakan suatu kemustahilan, tapi tetap bisa diupayakan. Namun, yang dapat dilakukan adalah mengimbangi hal-hal tersebut dengan menghadirkan counter-speech yang juga tak kalah kritis dan kreatif.

Pengguna lain bisa saja menyebarkan meme dengan ujaran kebencian terhadap suatu pihak, namun siswa atau kita pun harus lebih cerdas, jeli, dan kreatif dalam menahan jempol dan meletakkan kata-kata yang akan kekal di kolom komentar tersebut.

Tantangan selanjutnya adalah ketika seseorang lebih memilih pasif terhadap fenomena yang ada di sekitar mereka atau kadang disebut silent cyber-bystanders. Menutupi sebuah kebencian memerlukan kebaikan yang lebih banyak tentunya. Tenaga pendidik perlu merefleksikan ini: Seberapa sering seseorang (kita) memberikan usaha lebih dalam mengecek informasi untuk mendapatkan perspektif baru?

Seberapa jeli pula kita melihat viewers instastory atau konten kita yang datang dari latar belakang yang beragam, yang mungkin berpeluang akan mengusik salah satu pihak karena sepenggal ucapan yang kita lontarkan? Seberapa kritis dan kreatif kita menjawab komen-komen teman kita yang mem-bully atau memberikan hate speech karena dia berasal dari dari suku X?

Sebab, menghadirkan lensa yang berbeda bisa dimulai dari ruang sederhana ini.

 

Sumber : detik.com

Komentar Anda

komentar