Pantura, tak melulu soal truk atau bus-bus besar yang melaju dengan kecepatan tinggi.  Jalur pantai utara Pulau Jawa ini juga punya sejarah dan wisata budaya yang khas. Di jalur-jalurnya banyak kota-kota yang sejak lama menjadi pelabuhan dan pemukiman berbagai rumpun budaya. Sejak dahulu para pedagang dari India, Persia, Arab dan Tiongkok sudah tinggal di kota-kota ini.

Salah satu yang menarik adalah Lasem, sebuah kecamatan yang masuk dalam Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Kota tua ini dihuni bangunan-bangunan tua dengan sejarah panjang. Rupanya, Lasem merupakan salah satu kota awal yang menjadi lokasi pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa. Mereka menepi sekitar abad ke 14 atau 15.

Para pedagang asal Tiongkok itu berbaur dengan penduduk setempat yang beretnis Jawa. Mulai dari sini lah, banyak perpaduan yang dilahirkan. Misalnya, seperti yang dapat kita lihat lewat batik Lasem yang terkenal karena tingkat kerumitannya cukup tinggi. Dan tentu saja di sini terdapat perkampungan Tionghoa yang tersebar. Sejauh mata memandang pun yang terlihat adalah bangunan yang percampuran dari budaya Tionghoa. Penduduknya juga kebanyakan peranakan Jawa-Tionghoa.

Bila kita melangkahkan kaki di sepanjang jalan yang ada di kawasan Lasem. Akan dengan mudah menemukan bangunan tua dengan pintu kayu yang dilengkapi dengan huruf-huruf Hanzi dan pada bagian tiang-tiangnnya, yang justru sangat kental dengan arsitektur Eropa, namun tak jarang atap joglo juga menyeruak muncul.

Lasem juga menjadi salah satu tempat dimana toleransi antar umat beragama dijunjung tinggi. Walau berbeda agama atau etnis bukan menjadi alasan untuk dijadikan permasalahan yang berujung konflik. Di tempat ini kita banyak melihat berbagai tempat ibadah, baik klenteng, vihara maupun tempat ibadah agama lain.

Lasem yang kerap dijuluki Little China, juga memiliki berbagai objek wisata bangunan bersejarah. Salah satunya adalah Klenteng Cu An Kiong yang merupakan kleteng tertua di Lasem. Didirikan pada abad 13 hingga hari ini Klenteng Cu An Kiong masih berdiri kokoh. Kabarnya, klenteng ini dibangun menggunakan kayu jati yang saat itu tumbuh subur di Lasem.

Sumber: kumparan.com

Komentar Anda

komentar