Matahari sudah beranjak naik di Hari Minggu (25/11), saat serombongan pemuda mendatangi GPIB Pniel di Pasuruan. Mereka datang ke gedung gereja Protestan itu bukan untuk beribadah melainkan menelusuri situs-situs cagar budaya yang ada di Kota Pasuruan.

Gabungan pemuda yang tergabung dalam Pasuruan Youth Forum ini datang dari beberapa daerah, sengaja pergi ke Kota Pasuruan untuk melawat beberapa cagar budaya di sana. Salah satunya, Anik Lailatul Muniroh, perempuan muda asal Nongkojajar. Rekannya juga datang dari jauh, Gempol dan Rejoso. Ada pula beberapa guru sejarah yang ikut trip edukatif lawatan cagar budaya kali ini.

Memasuki gerbang gereja, senyuman Bowo menyambut ramah. Ia adalah penatua di GPIB Pniel yang juga menjadi pemandu saat berada di salah satu gereja bersejarah di Pasuruan itu.

Bowo bercerita pada tahun 2001, kala itu terjadi huru-hara hingga gereja peninggalan Pemerintah Hindia Belanda ini dibakar massa. Bowo tak menjelaskan detail peristiwa pembakaran secara gamblang, dari raut wajahnya memang tersirat trauma yang mendalam.

Tanggal 15 November 1829, gereja ini diresmikan dengan nama De Protestantse Kerk te Pasoeroean. Dulu Pemerintah Hindia Belanda mendirikan gereja ini untuk mengakomodasi umat Kristen Protestan yang ada di Pasuruan,” paparnya

Diskusi kian mengalir. Selepas itu para rombongan juga menelusuri ruang demi ruang yang ada dalam bangunan utama gereja. Tak lupa mereka berswafoto mengabadikan momen.

Nir, sapaan akrab penggagas lawatan cagar budaya ini mengaku ingin memantik semangat pemuda Pasuruan agar lebih cinta daerahnya. Ia pun tak menyangka jika kegiatan lawatan ini turut pula dihadiri perwakilan dari pemerintahan dan juga kalangan akademisi. “Ini bagus. Setidaknya ada dukungan dari pemerintah dan berbagai lini untuk menjaga dan merawat cagar budaya di Pasuruan ini,” ungkapnya.

Mungkin tak banyak yang tahu jika Pasuruan pun punya banyak sekali cagar budaya yang bisa dieksplorasi. Ia juga mengatakan, beberapa waktu lalu diperingati hari toleransi sehingga agenda ini dirasa tepat untuk menumbuhkan jiwa toleransi antar umat beragama.

Setelah dari GPIB Pniel, selanjutnya kita melawat ke Gereja Katolik St. Antonius Pandova, Masjid Jami’ Al-Anwar sekaligus makam KH. Abdul Hamid, Rumah Raden Nitiadiningrat, Klenteng Tjo Tik Kiong dan diakhiri dengan kunjungan ke Bipang Jangkar,” terangnya pada peserta lawatan.

Kurniawan, Kasie sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan yang juga ikut dalam rombongan lawatan mengatakan, masih banyak PR pemerintah dalam menata permasalahan cagar budaya kota. Seperti anggaran perawatan, yang menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan.

Ada ratusan cagar budaya sebenarnya, dan ini menjadi aset daerah yang patut dilestarikan. Para pemuda pun harus mau dan mampu merawat aset berharga ini,” ungkapnya.

Menjelang waktu Dzuhur, rombongan pun bergeser menuju Masjid Jami’ Al Anwar untuk menjalankan ibadah sholat Dzuhur. Kemudian sekitar pukul 14.00 WIB peserta lawatan telah tiba di Klenteng Tjo Tik Kiong.

Pemandu menjelaskan, Tjoe Tik Kiong ini didirikan tahun 1740. Tjoe Tik Kiong itu sendiri bermakna istana yang mengamalkan dan menyebarkan rasa kasih sayang dan perbuatan kebaikan.

Trip edukasi lawatan cagar budaya ini diakhiri dengan mengunjungi pabrik Bipang Jangkar, makanan khas Pasuruan.

Salah seorang guru sejarah SMAN Kejayan yang mengikuti acara, Khusmiati, mengaku sangat senang dengan adanya kegiatan lawatan cagar budaya semacam ini. Melalui kegiatan ini juga, ia dapat menyalurkan informasi dan ilmu yang ia dapat tentang Cagar Budaya asli Pasuruan kepada para siswanya. “Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya,” ungkapnya.

Sumber: wartabromo.com

Komentar Anda

komentar