Masih ingat waktu Rangga dan Cinta tur satu malam penuh di kitaran Yogya dan Jawa Tengah? Ya, ada satu momen mereka berada bangunan unik di tengah hutan asri perbukitan Magelang. Warga sekitar sering menyebut bangunan itu Gereja Ayam. Sejak menjadi lokasi syuting film populer Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2, animo masyarakat untuk berkunjung sangat besar. Setiap hari ratusan pelancong datang berkunjung dan jumlahnya akan membengkak pada akhir pekan atau hari libur panjang.

Sebutan Gereja Ayam sebenarnya kurang tepat. William Wenas, 37 tahun, pengelola yang juga putera ke-5 dari Daniel Alamsjah, sang pendiri bangunan, mengatakan sejak awal ayahnya merancang bangunan itu agar menyerupai bentuk burung Merpati, simbol perdamaian secara universal dan juga kuasa Roh Kudus dalam kekristenan. Hal itu menurut William merupakan petunjuk yang didapat ayahnya di dalam mimpi.

Visi Papa sejak awal sebenarnya membangun rumah doa berbentuk merpati, tapi mungkin karena dibangunnya tidak pakai desainer dan yang mengerjakannya juga warga setempat, jadi mungkin hasilnya kurang professional. Akhirnya mungkin jadi lebih mirip dengan ayam. Makanya kemudian disebut Gereja Ayam oleh orang-orang,” tutur William.

Ia juga menambahkan tidak hanya bentuk bangunan itu saja yang disalahartikan pengunjung, tapi konsep bangunan yang diberi nama rumah doa Bukit Rhema ini sering keliru diidentikan rumah dengan gereja.

Kita memiliki tim yang selalu menjelaskan pada pengunjung kalau ini bukan gereja, tetapi rumah doa yang mungkin mengusung konsep berbeda dengan rumah doa lain karena rumah ini diperuntukan bagi semua agama,” tambah William.

Karena bukan gereja, rumah yang berlokasi di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang ini tidak memiliki jadwal kebaktian rutin. Sebaliknya bangunan yang didirikan oleh ayahnya menyediakan ruang bagi semua pemeluk agama yang hendak berdoa. Selain memiliki sudut bagi umat Kristiani untuk berdoa, pengelola rumah doa ini juga memilihkan sebuah ruangan khusus yang menghadap ke arah kiblat bagi umat muslim.

Karena banyak pengunjung yang beragama Islam dan menanyakan fasilitas mushola untuk sholat, akhirnya kami berinisiatif membuat space khusus. Kita pilih sudut di basement yang khusus menghadap ke kiblat,” tutur William.

Apa yang disampaikan William memang sesuai dengan komentar para pengunjung. Mimiva dan Herman Trijanto, termasuk orang yang pernah datang ke rumah doa ini. “Pertama kali kesini saya kira ini tempat ibadah umat Nasrani saja. Namun ternyata didalamnya ada mushola yang bersih lengkap dengan peralatan sholat seperti sajadah, sarung dan mukena,” kata Mimivia.

Semua teman saya memiliki keyakinan yang berbeda-beda tetapi kami merasakan kedamaian dan toleransi di tempat ini,” kata Herman Trianto, yang sehari-hari berprofesi sebagai dokter penyakit dalam. Ia mengaku sudah beberapa kali datang ke tempat ini bersama keluarga atau teman sejawatnya.

Untuk memperkuat pesan toleransi beragama dan keragaman budaya Indonesia, di bagian dalam Bukit Rhema atau Gereja Ayam juga menampilkan keragaman budaya dari seluruh provinsi di Indonesia hingga kekayaan alam dan budaya propinsi Jawa Tengah hingga pesan anti narkoba.

Sumber: viva.co.id

Komentar Anda

komentar