Di bulan Februari ini kita tengah memperingati satu event skala internasional yang bertajuk World Interfaith Harmony Week (WIHW) atau Pekan Harmoni antar Agama di Dunia. Tahun ini di Indonesia WIHW dirayakan secara nasional pada Minggu (11/2) di Jakarta, dengan inisiatif dari tim Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban. Di Bandung WIHW juga pernah diselenggarakan dengan cukup meriah atas inisiatif dari Kongregasi Susteran Katolik RSCJ dan Religious Studies UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

WIHW sendiri sebenarnya dirayakan setiap minggu pertama Februari. Namun, dalam pelaksanaannya di banyak negara seringkali diperpanjang hingga akhir bulan. Apalagi dengan banyak latar budaya dan pertimbangan yang menganggap Februari adalah bulannya ekspresi cinta kasih. Ini yang membuat event ini juga sering disebut sebagai Bulan Harmoni antar Umat beragama.

Kegiatan harmoni lintas iman ini bermula dari usulan Raja Abdullah II dari Yordania, pada persidangan Majelis Umum PBB, 23 September 2010 di New York. Dalam pidato di persidangan tersebut nya Raja Abdullah mengatakan:

Amat penting untuk melawan kekuatan perpecahan yang menyebarkan kesalahpahaman dan ketidakpercayaan terutama di kalangan masyarakat yang berbeda agama. Adalah fakta jika kemanusiaan dimanapun juga akan terikat bersama, tidak hanya oleh kepentingan bersama, tapi dengan perintah bersama untuk mencintai Tuhan dan sesama; untuk mencintai kebaikan dan orang di sekitar kita.

Minggu ini, delegasi saya, dengan dukungan teman-teman kami di setiap benua, akan memperkenalkan sebuah rancangan resolusi untuk perayaan tahunan Pekan Harmoni antar Agama. Apa yang kami usulkan adalah minggu istimewa, di mana orang-orang di seluruh penjuru dunia, di tempat ibadah mereka masing-masing, dapat mengungkapkan ajaran iman mereka sendiri tentang toleransi, penghormatan terhadap yang lain dan perdamaian.

Pada tanggal 20 Oktober 2010, Pangeran Ghazi bin Muhammad dari Yordania, Penasihat Khusus dan Utusan Pribadi untuk Raja Abdullah II dan penulis resolusinya, mempresentasikan proposal untuk Pekan Harmoni Antaragama Dunia di hadapan Sidang Umum PBB di New York, dimana usulannya diadopsi dengan suara bulat.

WIHW tidak berdiri begitu saja tanpa konteks. Landasan filosofis adalah dokumen Common Word yang ditulis oleh Pangeran Ghazi bin Muhammad dan dirilis pada tahun 2007, sebagai ajakan dialog dari retusan pemimpin umat Islam terhadap umat Kristiani dan agama-agama lain. The Common Word Initiative dan World Interfaith Harmony Week berasal dari gagasan bahwa umat manusia terikat bersama oleh dua kesatuan hukum yang disebut cinta pada Tuhan dan cinta pada sesama (atau ‘Cinta akan Kebaikan dan Cinta pada Sesama).

Dalam pidatonya di Majelis Umum PBB, Pangeran Ghazi dari Yordania menyatakan bahwa tujuan Pekan Harmoni Antaragama akan dipenuhi apabila kita “… secara permanen dan teratur mendorong mayoritas pemimpin agama yang selama ini diam, untuk menyatakan pendapat dan keyakinan mereka tentang kedamaian dan keharmonisan, serta menyediakan perangkat yang  siap pakai bagi mereka untuk melakukannya.arms

Komentar Anda

komentar