Konsepsi budaya yang berbeda-beda tentang Tuhan, semesta dan manusia seringkali menjadi tantangan tersendiri saat menerjemahkan istilah ketuhanan dari satu agama. Ini banyak terjadi awalnya terutama karena pengaruh agama-agama monoteistik khas Ibrahimik yang amat giat dalam dakwahnya.

Meski nampaknya terbilang gampang mencari cognate (istilah yang sepadan) untuk merujuk Tuhan yang personal, semisal god di Inggris, dengan ilah di Arab, atau theos di Yunani, dan dev di Sanskrit. Ternyata tidak selalu bisa dilakukan dengan sederhana. Sebab, tidak semua kebudayaan punya cognate seperti itu. Bahkan sejati-nya istilah-istilah tadi pun tidak benar-benar sepadan.

Sebagai contoh dalam kepercayaan umum masyarakat Asia Timur batas sakralitas antara roh nenek moyang, makhluk surgawi, dewa-dewi, penguasa semesta dan realitas tak terdefenisikan, tidak selalu bisa ditarik tegas. Dalam tradisi masyarakat Shinto-Jepang, misalnya, semuanya disebut sebagai kami. Maka kata kami itu bisa berarti dewa/dewi, roh, roh leluhur, spirit kolektif masyarakat, tidak selalu berarti sosok Tuhan yang personal.

Di sisi lain, istilah dev di Sanskrit, tidak selalu merujuk pada pribadi Dewa, namun juga sosok lain dalam hirarki keilahian, yang tentunya tak dikenal dalam tradisi Ibrahimik. Atau juga lebih kearah sifat keilahian itu sendiri. Sementara itu ada pula term Sanskrit lain semacam Bhagavan, Ishvara yang sering (meski tidak selalu) merujuk pada keilahian yang sifatnya berpribadi (personal). Namun, ada pula term seperti Brahman yang merujuk pada realitas tak berubah yang tak bisa didefenisikan, yang umumnya dimaknai secara impersonal.

Mana yang cocok dipakai untuk menerjemahkan kata Tuhan? Sebaliknya bagaimana istilah-istilah yang berbeda-beda harus diterjemahkan ke bahasa lain?

Di bahasa-bahasa Nusantara, kesulitan itupun sedikit banyak dirasakan. Meski konsep monoteistik-personal, secara implisit ada dalam kepercayaan tradisional Indonesia (semisal ditemukan pada sapaan Hyang yang unik di Nusantara), namun sebelum kata Tuhan mengalami pergeseran makna menjadi punya dimensi keilahian (pergeseran di Bahasa Melayu itu berlangsung sekitar awal abad ke-16), umumnya konsep tentang Tuhan yang Esa khas Ibrahimik, diterjemahkan dengan sejumlah penyesuaian di bahasa-bahasa daerah.

Sapaan seperti Gusti, Pangeran, atau varian dewa(ta), sempat dan kebanyakan masih banyak dipakai di sejumlah daerah untuk menyapa Tuhan yang Esa. Terjemahan-terjemahan paling awal Alkitab dan Al-Quran ke bahasa Nusantara pun menunjukkan preferensi tertentu. Ada yang lebih mempertahankan sebutan yang lebih dekat ke bahasa juru dakwah (semisal memakai kata ilah saja untuk Al Quran, atau deus untuk Alkitab terjemahan misionaris Portugis), ada pula yang dengan progresif memakai sapaan khas lokal tadi.

Cukup menarik untuk melihat bagaimana cara kerja para penerjemah saat menggelar ide-ide dan konsep itu beralih bahasa. Hingga saat ini, hal itu dilakukan baik oleh orang yang ingin membawa pesan keagamaan lain ke budaya tersebut, seperti yang banyak dilakukan misionaris Kristen dan juru dakwah Islam. Atau, sebaliknya saat para pemimpin agama/kepercayaan di kebudayaan ingin menjelaskan apa yang dipercayai oleh ia dan kaumnya ke dunia luar, yang umumnya mengadopsi konsep ketuhanan khas Ibrahimik. Atau juga oleh orang-orang yang tertarik dalam studi agama dan budaya. **arms

Komentar Anda

komentar