Gereja Katolik telah memulai misinya di Korea sejak awal 1600-an. Jauh lebih awal ketimbang misi Protestan yang baru sampai di wilayah itu di sekitar 1880-an. Namun, jauh sebelum keduanya, sebenarnya sejumlah umat Islam dari Persia, Arabia maupun Asia Tengah, sejak abad ke-9 Masehi telah sampai di Silla, salah satu dari Tiga Kerajaan Klasik Korea, yang paling dekat dengan daratan Tiongkok. Sayangnya, komunitas Muslim yang kemudian dikenal sebagai Huihui-Korea ini tidak berkembang, hingga hampir tidak diketahui lagi keberadaannya selepas abad ke-16. Baru di era 1900-an semasa dan selepas Perang Dunia II, Islam kembali dikenal di Korea.

Sebelum agama-agama Ibrahimik itu tiba, kepercayaan tradisional Korea telah cukup banyak dipengaruhi oleh Buddhisme dan Konfusianisme, karena persentuhannya yang intens dengan daratan Tiongkok.

Sama seperti kebanyakan upaya dakwah di bangsa Asia Timur, para penginjil Kristen, lalu para juru dakwah Islam modern memang kembali mengalami sejumlah kesulitan saat menerjemahkan konsep dan sebutan Tuhan monoteistik ala agama Ibrahimik ke dalam Bahasa Korea.

Bahasa Korea memang memiliki bentuk maskulin shin atau feminin yeoshin yang biasa disematkan untuk dewa/dewi atau roh leluhur dan tokoh yang dihormati. Mirip seperti bentuk androgini kami dalam Bahasa Jepang maupun shen dalam Bahasa Mandarin. Tentu saja, itu menimbulkan keraguan agama Ibrahimik untuk mengadopsinya secara total.

Namun, karena sudah terlebih dahulu bersentuhan dengan tradisi Tiongkok, para penginjil Katolik lebih memilih untuk meneruskan sebutan untuk Tuhan yang lazim di Tiongkok, yaitu Thian-zhu (Raja Langit/ Surgawi), yang dalam varian dialek Korea dibaca menjadi Cheon-ju. Sementara itu misi Gereja Anglikan juga memakai nama klasik untuk Sesembahan Universal Tiongkok Shang Di, yang di dalam dialek Korea dibaca menjadi Sang-je.

Gerakan Protestan yang lebih baru, justru lebih memilih sebutan yang sudah dikenal lama di Korea untuk menyebut Dewa/Raja Langit, yaitu Haneullim, yang dalam variannya bisa disebut Hwanim, Hunanim atau Hananim. Jemaat Protestan yang lebih konservatif, lebih banyak memilih menggunakan varian Hananim, yang juga bisa mengindikasikan keesan Tuhan (Korea: hana = satu). Sementara yang lebih liberal merasa tidak masalah menggunakan varian yang lebih kuno yaitu Haneullim.

Taeguk Tiga Warna

Haneullim sendiri adalah nama yang menjadi jantung kepercayaan tradisional Korea, sebelum bersentuhan dengan Konfusianisme, Buddhisme, maupun agama Kristen yang datang berikutnya. Agak berbeda dengan konsep ketuhanan di Konfusianisme dan Buddhisme, Haneulim umumnya selalu dimaknai sebagai sosok yang memang berpribadi (personal).

Haneullim dianggap merupakan sumber dari segala mahluk dan yang menurunkan para pemimpin dan rohaniwan Korea. Cukup sering pula digambarkan dengan keseimbangan personal yang bersama dalam tiga kesatuan: Penguasa Langit/Surga, Penguasa Alam Antara dan Penguasa Bumi/Tanah, dengan Langit sebagai sosok transenden yang paling tinggi. Keseimbangan yang agak berbeda dengan dualisme ying-yang Tiongkok.

Inilah yang menyebabkan sejumlah penginjil Kristen agak ragu memakai nama ini, karena khawatir kecenderungannya pada penggunaan yang dianggap mereka “pagan.”

Sementara itu umat Islam di era modern Korea, lebih memakai sebutan umum shen untuk menerjemahkan ilah, dan hanya memakai nama Allah (varian Korea: Alla), untuk mengindikasikan Tuhan dalam konsep monoteisme Ibrahimik. Meski demikian dalam dialog dengan umat Protestan dan kaum modern Korea Selatan, umat Islam juga pernah memakai sebutan Hananim.

Sejumlah varian Haneullim dan Sang-je juga kembali digunakan sebagai sebutan untuk Sesembahan Universal dalam sejumlah gerakan keagamaan modern yang merupakan revitalisasi agama tradisional Korea seperti Cheondogyo di Korea Utara, atau gerakan Jeungsangyo, Suungyo, atau beragam gerakan Mugyo. **arms

Komentar Anda

komentar