Sapaan Tian (harafiah berarti Langit atau Penguasa/Kekuasaan Langit) dan Shang Di (Sosok Ilahi Tertinggi), telah lama dipakai dalam ritual Tiongkok kuno sebagai nama Sesembahan Universal. Penggunaannya dalam bermacam variasi, semisal Huang Tian (Langit Kuning/Langit bersinar), Hao Tian (Langit Luas), Dijun (Sosok Ilahi yang Memerintah), atau Di saja. Salah satu kombinasi yang paling terkenal adalah yang menandakan keseimbangan Ying-Yang, seperti contoh hingga kini ada di kuil Beijing, yang menyebutnya “Huangtian Shangdi” (kira-kira berarti: Sosok Ilahi Tertinggi, Raja Langit).

Agaknya dalam masyarakat tradisional Tiongkok, Sesembahan Universal itu tidak harus ber-pribadi (personal), namun bukan berarti pula harus tak-berpribadi (impersonal).

Pakar Agama Tiongkok, Huang Yong, mencontohkan dalam Konfusianisme sendiri setidaknya ada tiga pandangan tentang konsep Sesembahan Universal ini. Yang memandangnya sebagai Sosok Tuhan, Pribadi Tertinggi (1), yang memandangnya sebagai sosok yang imanen sekaligus transenden dan merupakan suatu realitas yang mutlak (2), atau yang memandangnya sebagai daya aktivitas yang menggerakkan segala sesuatu di dunia (3).

Sementara itu Taoisme juga menekankan konsep impersonal Dao, yaitu Harmoni dan Keteraturan, Jalan Kebenaran dan Sumber segala sesuatu. Tidak untuk disembah, tapi untuk ditemukan dan dialami dalam hidup.

Kedua filsafat klasik Tiongkok ini juga tetap mempertahankan keyakinan bahwa selain Sesembahan Universal itu, ada pula sosok-sosok surgawi, maupun roh leluluhur yang telah mencapai tahap surgawi, yang juga dijadikan bagian dalam ritual keagamaan. Sosok-sosok ini disebut secara personal dan dipuja sebagai teladan dan diminta restu dan keberkahannya.

Saat Buddhisme masuk ke daratan Tiongkok, sosok-sosok yang personal tersebut dikategorikan sebagai mereka yang ada di level alam yang lebih tinggi dari manusia atau telah mencapai arahat. Buddhisme, yang memang lebih banyak diam terkait konsep ketuhanan, boleh dikatakan sama sekali tidak menggugat konsep ketuhanan Tiongkok, malah cukup banyak memakai term medidatif Taoisme untuk mendabarkan konsep Dharma-nya. Selain tentunya tinggal mengubah lafal istilah-istilah Buddhis ke istilah yang lebih sesuai dengan dialek Tiongkok.

Lantas bagaimana saat agama-agama Ibrahimik mencoba masuk Tiongkok?

Kekristenan Asyria Timur (Nestorian) yang masuk ke Tiongkok sekitar abad ketujuh Masehi, awalnya lebih memilih mempopulerkan istilah khusus Zhenzhu (Yang Agung dan Benar) untuk menyapa Tuhan. Meski demikian, kata Tian tetap digunakan, baik dalam pengertian ilah/god maupun dalam pengertian surga/langit (heaven). Dalam sejumlah himne kekristenan Nestorisan Tiongkok, istilah khas Tiongkok Tianzhu (Raja/Sang Agung Surgawi), juga dipakai.

Grafiti di Makam Umat Nestorian Tiongkok

Sebutan Zhenzhu untuk menyapa Tuhan ini juga dipakai oleh komunitas Islam di Tiongkok. Selain tentu nama Allah yang dalam dialek Tiongkok menjadi Ala. Uniknya, penyesuaian lidah itu juga menciptakan istilah khas Muslim Tiongkok Anla (An: Damai; La: Pertolongan, Pertolongan Damai) yang juga dipakai untuk menyebut Nama Allah. Sebutan Huda (yang agaknya berasal dari term Persia khudai) juga dipakai untuk menerjemahkan god/ilah terutama di masyarakat Muslim di Barat Laut Tiongkok.

Sementara itu misi Awal Gereja Katolik lebih memilih sebutan Tianzhu dan memakainya secara massif, untuk membedakannya dengan Konfusianisme, yang cenderung memakai Shang Di dan Tian. Sedangkan Gereja Protestan merasa tidak ada masalah memakai salah satu nama Sesembahan Universal klasik Tiongkok Shang Di. Dalam doa-doa yang non formal, sebutan Tianfu (Bapa Langit/Bapa Surgawi) juga biasa dipakai.

Kini dalam tradisi literasi Kristen dan Islam kata “god/deus/ilah” umumnya diterjemahkan sebagai shen, kata yang sebenarnya juga bisa berarti roh, jiwa, atau sosok suci. Sementara kata “lord/dominus/rabb” umumnya diterjemahkan sebagai zhu, yang sebenarnya juga bisa berarti tuan, raja atau yang agung. **arms

Komentar Anda

komentar