Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi bicara soal informasi yang mengaitkan dirinya dengan isu pemulangan WNI mantan anggota ISIS di Timur Tengah. Fachrul mengaku tidak pernah menyampaikan soal rencana pemulangan WNI eks ISIS itu.

“Sebetulnya itu udah biasnya jauh banget ya,” kata Fachrul di kantor Kementerian Agama, Jalan Lapangan Banteng Barat, Sawah Besar, Jakarta Pusat, Selasa (4/2/2020).

Fachrul lalu menjelaskan mengenai informasi yang beredar tersebut. Menurutnya, pembahasan soal ISIS itu ada di acara relawan Bravo lima menjadi ormas yang membantu pemerintah. Fachrul sebagai Ketua Umum Bravo Lima menghadiri acara itu.

“Kemudian saya mengundang wakil dari menteri apa, Kementerian Dalam Negeri, kemudian dari BNPT, untuk memberikan pembekalan,” sambungnya.

Selain Fachrul, beberapa pembicara juga diundang yaitu perwakilan Kemendagri yang memberikan pembekalan tentang radikalisme, dan BNPT yang diwakili oleh Mayor Jenderal Hendri Paruhuman Lubis membahas masalah terorisme, salah satunya adalah ISIS.

“Ditampilkanlah ISIS itu yang sampai anak kecil terlatih menembakin orang tua yang lagi ditahan, kemudian orang yang kepalanya dipasang bahan peledak, pleengg (menggambarkan suara ledakan), mental kepalanya itu, ada yang di dalam kerangkeng dibakar dan sebagainya, sambil mengatakan, ‘nih kira-kira beginilah ISIS itu. Coba bayangkan kalau dia 600 orang itu pulang ke Indonesia misalnya dipulangkan” ucap Fachrul menirukan ucapan Hendri Paruhuman Lubis.

Fachrul mengatakan video gambaran aktivitas ISIS yang terbilang sadis juga ditampilkan. Setelah penampilan video tersebut, dia memberikan pengarahan pada para anggota organisasinya.

“Selesai, saya beri penekanan. Kalau gitu kalian, satu, misalnya masalah kerukunan. Bantu kerukunan umat beragama. Kedua, soal radikalisme tadi yang disampaikan diwaspadai misalkan supaya sekitar kita temen orang yang radikal itu bisa diajak dialog untuk jadi moderat gitu ya. Terus tadi yang disampaikan Mayor Jendral Lubis itu menjadi diwaspadai, kalau betul-betul dipulangkan ya bukan gampang kemungkinannya,” katanya.

Fachrul mengatakan video tersebut diputar oleh Mayor Jenderal Hendri Paruhuman Lubis. Fachrul juga mengulang statement Lubis yang mengatakan lebih cepat membuat orang yang moderat menjadi radikal dibanding sebaliknya.

“Kalau membina dia (teroris ISIS) untuk menjadi orang baik, menjadi radikal, diceritakan Lubis itu hanya butuh berapa menit saja malah sejam dua jam sudah jadi. Tetapi membina kembali orang sudah radikal itu butuh bertahun-tahun nggak jadi-jadi. Itu aja ditekankan. Nggak ada apa-apa. Nggak ada cerita pendapat saya, pendapat saya,” ujarnya.

Fachrul juga mengatakan pernyataan mengenai pemulangan 600 WNI mantan anggota ISIS juga berasal dari Mayor Jenderal Hendri Paruhuman Lubis. Fachrul mengklarifikasi hal tersebut.

“Itu kan, anu, yang bilang andaikan itu si anu, siapa si (Hendri Paruhuman Lubis), bukan saya. Saya hanya mengingatkan tuh yang tadi dia sampaikan begitu bahayanya begitu. Jadi membina orang baik jadi radikal hanya dalam waktu pendek, membina orang radikal menjadi baik kembali butuh waktu yang sangat lama dan nggak jadi-jadi itu,” jelasnya.

Saat ditanya ada tidaknya kajian mengenai pemulangan WNI eks ISIS itu, Fachrul menyarankan untuk menanyakan ke Kemenkum HAM. “Oh itu Kemenkum HAM, Menko. Jadi bias jauh banget. Nggak ada, nggak ada ngomong apa-apa,” pungkasnya.

Sebelumnya, Polri mengatakan sudah mendapat informasi dari Menag Fachrul Razi soal rencana pemulangan 600 WNI eks ISIS di Timur Tengah. Polri akan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan keberadaan para WNI itu.

“Sebagaimana diinformasikan Menteri Agama (Fachrul Razi), ada 3 poin penting terkait itu, pertama kita masih koordinasi dengan pemerintah dimana warga negara eks ISIS ini berasal, maksudnya yang masih di negara Syria, Turki, dan Irak. Kita masih koordinasi,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Asep Adi Saputra di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Senin (3/2/2020).

Asep menyebut pihaknya juga akan melakukan profiling dan verifikasi. Langkah itu untuk memastikan kewarganegaraan 600 orang eks ISIS tersebut.

“Iya informasinya memang 600 orang, langkahnya tentu diverifikasi dan profiling dulu bener nggak WNI, harus jelas track record-nya, masih ada proses itu memastikan sambil lihat sikap pemerintah dari sana,” ujarnya.

 

Sumber : detik.com

Komentar Anda

komentar