Perayaan Hari Santri Nasional telah dimulai sejak hari Minggu lalu (22/10). Berbagai ragam kegiatan dilangsungkan hingga sepekan dan berakhir pada Sabtu (28/10). Sejumlah pesantren aktif terlibat dalam perayaan ini, demikian pula beberapa pejabat pusat dan daerah.

Hari santri ditetapkan untuk diperingati secara nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 22 Tahun 2015. Tanggal 22 Oktober dipilih karena dianggap merupakan pilihan yang paling mewakili substansi santri demi kemerdekaan bangsa. Inilah tanggal ketika tahun 1945 Kyai Hasyim Asy’ari mengumumkan fatwanya yang masyhur disebut sebagai Resolusi Jihad.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, Islam ala santri bermodelkan wasathiyah (bersifat moderat) yang bercirikan tawassuth (tidak ekstrem), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Islam ala santri merujuk pada metode dakwah Walisongo di bumi Nusantara yang membumikan akulturasi budaya, penyelarasan konteks waktu dan kondisi lingkungan serta kemaslahatan bersama.

Islam ala santri adalah Islam rahmatan lil alamin yang mampu beradaptasi dan berdialog sekaligus menghormati budaya lokal, kebiasaan dan tradisi masyarakat Indonesia yang majemuk,” kata Lukman.

Ia menerangkan, itu sebabnya santri di sini tidak dimaknai secara sempit. Artinya tidak dimaknai sebatas kaum sarungan yang belajar dan mengembangkan ilmu di pondok pesantren. Secara luas santri dimaknai sebagai umat Islam Indonesia yang mengamalkan ajaran Islam sesuai konteksnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Menag menyampaikan, pemerintah berpandangan bahwa Resolusi Jihad di yang dijadikan pijakan Hari Santri Nasional ini, tidak bersifat eksklusif melainkan inklusif. Resolusi Jihad dikeluarkan ulama bukan untuk memperjuangkan kelompoknya sendiri atau memikirkan umat Islam saja.

Tetapi lebih dari itu, Resolusi Jihad adalah cermin berpikir, bersikap dan bertindak ulama-santri untuk kepentingan Tanah Air. Juga untuk mempertahankan kedaulatan negara dan memerdekakan bangsa. Menurut Lukman, penetapan Hari Santri juga merupakan wujud peneguhan tanggung jawab kaum santri atas masa depan negara dan bangsa Indonesia.

“Hari Santri 22 Oktober adalah pengingat bangsa Indonesia agar tak lupa pada sejarah perjuangan kaum santri terdahulu yang telah menegakkan kehormatan agama dan bangsa mewujudkan cita-cita luhur NKRI,” kata Menag.

Sementara itu Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj menyatakan hari santri menjadi momentum peringatan atas jasa para ulama yang turut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Kiprah santri teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhineka Tunggal Ika. Santri berdiri di garda depan membentengi NKRI dari berbagai ancaman,” kata Kiai Said dalam pidatonya pada peringatan hari santri di Tugu Proklamasi, Jakarta, Minggu (22/10).

Dukungan terhadap NKRI juga ditunjukan santri setelah Indonesia merdeka. Saat itu para santri melalu Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan bahwa Indonesia tetaplah negara yang sah dalam Islam, namun bukan negara Islam, melainkan negara kesepakatan (Darul Ahdi).

“Momentum hari santri ini perlu ditransformasikan menjadi gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. Spirit nasionalisme bagian dari iman perlu terus digelorakan,” lanjut Kiai Said.

Sumber: kompas.com; republika.co.id

Komentar Anda

komentar