Sejak Minggu (3/3) sore atau usai salat asar, banyak orang berkumpul di depan halaman rumah H Mashur di Jalan Gatot Subroto (Gatsu) VI-L, Banjar Teruna Sari Dauh Puri Kaja (Gatsu Tengah), Kota Denpasar, Bali, bahkan jamaah hingga seratusan orang menghadiri tasyakuran umrah itu.

Acaranya diawali dengan pembacaan ayat suci Alquran mengisahkan napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim yang merupakan ritual haji atau umrah, lalu disambung dengan sambutan keluarga.

Itulah gambaran kerukunan Banjar Teruna Sari yang warganya sangat harmonis antara Islam, Hindu, dan Kristen. Semangat kaum muslim di Bali untuk menunaikan umrah yang ditunjukkan dengan tradisi pelepasan sebagai ungkapan syukur dan doa, sekaligus harapan untuk bisa juga menyusul beribadah ke Tanah Suci dengan caranya masing-masing.

Kalau acara seperti ini di Jawa sudah biasa, karena di sana memang mayoritas muslim, tapi kalau di Bali, tentu tradisi yang luar biasa,” kata anggota Jamaah Musholla Al-Hidayah Gatsu, Denpasar, Umar Alkhatab.

Diamankan Pecalang

Hal yang menarik, tradisi pelepasan jamaah umroh di Pulau Dewata itu justru diamankan pecalang (petugas keamanan adat) dari umat Hindu yang berjaga di ujung barat dan timur dari Jalan Gatsu VI-L itu.

Selain itu, sejumlah tamu dari umat Hindu juga tampak hadir untuk melepas H Mashur sekeluarga yang merupakan tokoh masyarakat setempat. Oleh karena itu, Kelian Banjar Teruna Sari juga terlihat datang bersama istrinya.

Sebagai wakil rakyat yang sering datang ke sini, saya tahu sendiri bahwa Banjar Teruna Sari merupakan contoh toleransi antarumat beragama yang baik di Bali,” kata Anggota DPRD Kota Denpasar Ketut Suteja Kumara. “Kalau mau melihat contoh yang terbaik untuk toleransi di Bali ya datang saja ke Banjar Teruna Sari yang warganya sangat harmonis antara Islam, Hindu, dan Kristen,” kata dia di sela-sela berdialog dengan warga Banjar setempat.

Ketut mencontohkan saat Idul Adha di Musholla Al-Hidayah Gatsu, sejumlah pecalang beragama Hindu yang mengamankan prosesi pemotongan hewan kurban. “Saya pernah ke sini saat warga muslim di sini mengangkat hewan kurban secara ramai-ramai untuk dipotong Haji Daldiri (Pembina Yayasan Musholla Al-Hidayah Gatsu), saya bertemu pecalang yang mengamankan prosesi ritual muslim itu,” kata dia.

Sebaliknya, kalau Hari Suci Nyepi diamankan pecalang dari Islam dan Kristen. “Begitu juga kalau Natal, maka pecalang beragama Hindu dan Islam yang membantu pengamanan ritual ibadahnya,” kata legislator muda itu. “Karena di sini tidak pernah terjadi ada penolakan warga beragama lain untuk tinggal di sini, seperti isu yang sering beredar dari mulut ke mulut tanpa fakta di pulau ini,” lanjutnya.

Sumber: tagar.id

Komentar Anda

komentar