Momen itu diabadikan oleh Alissa Wahid. Putri sulung alm. Gus Dur itu berada di belakang KH Maimoen Zubair, saat menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama empat tahun silam. Mbah Moen saat itu sudah jarang bepergian, mengingat usianya yang sudah 86 tahun, serta kondisi fisik yang sangat tergantung pada kursi roda.

Tapi saat peserta bersama menyanyikan lagu kebangsaan, Mbah Moen memaksakan badannya untuk berdiri. Dengan lutut yang bergetar, tangannya masih sigap menahan tubuh tegak, begitu Indonesia Raya berkumandang.

Tak banyak yang langsung melihat momen itu dan nampaknya sang kyai sepuh pun tidak ingin dibantu. Ada senyum kepuasan di wajah kelelahan ulama asal Rembang itu, saat duduk kembali usai lagu ciptaan W.R Supratman tadi tuntas dilantunkan.

**

Itu adalah gambaran mendalam bagaimana kecintaan KH Maimoen Zubair pada tanah airnya. Sikap itu memang lazim kita temui pada banyak ulama di Nusantara. Apalagi dari kalangan pesantren tradisional yang sejak awal ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tapi buat Mbah Moen kecintaan itu punya bentukan narasi tersendiri.

Meski di kalangan ulama seangkatan biasanya lebih mengingat tanggal lahir dalam tahun Hijriyah, Mbah Moen di beberapa kesempatan menyinggung tanggal lahirnya yang tepat jatuh pada 28 Oktober 1928. Bersamaan dengan Kongres Pemuda II yang melahirkan keputusan yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Di momen itu pula lagu kebangsaan Indonesia Raya pertama kali diperdengarkan ke publik oleh komponisnya.

Bagi pengasuh pesantren al-Anwar, Sarang, Rembang, refleksi soal pendirian bangsa adalah pesan penting yang sering diulang. Indonesia adalah negeri yang patut disyukuri keberadaannya, Sebagai ulama Islam, ia di berbagai kesempatan menyerukan bahwa negeri ini adalah anugerah Allah, buat umat Islam di dalamnya, sekaligus juga buat seluruh anak bangsa sebagai kesatuan.

Ndak perlu dipertentangkan lagi mayoritas – minoritas, Muslim – kafir, ndak… ndak boleh…, kita ini satu rumah tangga, kita sama-sama membangun rumah tangga bangsa,” ungkapnya dalam satu wawancara saat ditanya soal toleransi dan kerukunan.

Sikap itu pula yang ia tunjukkan dalam pengabdian. Menjabat sebagai anggota DPRD Rembang dan Anggota MPR RI mewakili Jawa Tengah, serta aktivitasnya di Partai Persatuan Pembangunan dan Nahdlatul Ulama adalah jalan yang terlihat secara publik Mbah Moen memberi kontribusi bagi kehidupan bangsa. Lebih dari itu, sekian banyak jalan dakwah yang ditempuhnya adalah upaya mendidik generasi baru yang mencintai agama sekaligus bangsanya.

Kalau sungguh-sungguh ber-Islam, kita yang tinggal disini pasti cinta negara ini,” simpul Mbah Moen di wawancara yang sama.

Nampaknya kepergiannya hari ini adalah ujung yang menegaskan keyakinan itu.

Mbah Moen berpulang saat menunaikan ibadah haji di Mekkah. Menurut Ust. Sholeh Mahmoed Nasution yang mendampinginya, Mbah Moen tak sadarkan diri lepas mengambil wudhu untuk shalat tahajjud. Kiai kharismatik itu dipastikan wafat hari ini (6/8) jelang subuh waktu Arab Saudi.

Tentu duka dan haru tertinggal di hati kita anak bangsa, yang ditinggalkan sosoknya. Tapi ujung itu dengan sederhana sekaligus sempurna menyimpulan teladan Mbah Moen. Lahir saat tonggak penting dalam sejarah bangsa, wafat saat momen agung dalam ibadah agama. Dua hal, yang sangat dicintai Mbah Moen dalam tiap helaan nafas dan karyanya. Keduanya dicintainya secara menyatu dan utuh… **arms

Foto: Jurnal Jatim, Alissa Wahid

Komentar Anda

komentar