Peringatan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW, yang kerap diistilahkan muludan, memang telah lama jadi tradisi di berbagai wilayah Nusantara.

Meski bukan perayaan dengan universalitas seperti Idul Fitri atau Idul Adha, muludan tetap jadi momen yang dinanti karena ragam khasnya di sejumlah tempat. Biasanya, akan ada makan besar atau bagi-bagi rejeki di momen ini, selain tentunya kegiatan doa dan shalawatan.

Tempat-tempat yang kental dengan sejarah kesultanan Islam, biasanya punya bentuk maulid yang menandakan identitas istana dan rakyatnya.

Di Yogyakarta, misalnya, perayaan ini lebih banyak dikenali sebagai grebeg maulud. Di kesempatan ini Sultan dan para petinggi keraton akan keluar dari keraton menuju masjid dengan membawa gunungan makanan. Gunungan akan diarak menuju alun-alun kemudian didoakan di Masjid Gede Kauman.

Gunungan makanan selanjutnya akan diberikan kepada warga yang diperebutkan siapa saja yang menonton. Banyak orang percaya jika mengambil hasil bumi dari gunungan tersebut akan mendapatkan berkah.

Kesultanan Cirebon lain lagi. Ada ritual yang dikenal sebagai panjang jimat. Ini merupakan tradisi puncak Maulid Nabi Muhammad SAW di Cirebon yang sudah berlangsung sejak masa Sunan Gunung Jati, di abad ke-15.

Kegiatan ini biasanya diawali dengan iring-iringin abdi dalem pembawa perangkat ritual, seperti lilin, guci, baki, dan nasi jimat yang penuh dengan makna.

Sementara itu maulid nabi di Aceh dirayakan dengan menyelenggarakan serangkaian acara mulai dari zikir, ceramah agama, hingga kenduri dengan makan bersama.

Sejumlah orang berkumpul di masjid untuk menikmati hidangan berupa gulai kari kambing dalam belanga besar untuk disantap bersama. Makanan ini biasa disebut idang dan biasanya dibawa dari rumah-rumah warga yang memasaknya secara sukarela.

Baca juga  3 Teori Masuknya Islam ke Indonesia Lengkap

Ada pula tradisi bunga lado, khas perayaan muludan di Padang Pariaman. Di perayaan ini. masyarakat membuat pohon buatan yang nantinya akan dihiasi beragam uang kertas asli.

Setelah mengarak pohon uang tersebut, masyarakat sekitar akan menyumbangkannya untuk kesejahteraan umat seperti untuk pembangunan masjid. Tradisi ini pun dikenal sebagai ajang silaturahmi antarmasyarakat setempat.

Suku Bugis juga punya cirinya tersendiri. Dalam perayaan muludan yang disebut sebagai maudu lompoa, masyarakat sekitar, terutama kaum mudanya, bergotong royong mengarak replika kapal atau julung-julung yang berisikan hidangan khas berupa nasi pamatra (setengah matang) beserta lauk pauk seperti ayam kampung dan telur warna-warni serta hiasan khas Sulawesi. Julung-julung akan diarak menuju pinggir Sungai Cikoang pada puncak perayaan Maudu Lompoa.

Sayang ragam keramaian ini mungkin tidak bisa banyak kita nikmati pada maulid Nabi di tahun ini. Semoga nanti pasca pandemi, momen muludan seperti ini tetap ada dan menjadi momen menarik untuk dihadiri.

Sumber: FOKAL.info

Bagikan

Komentar Anda

komentar