Beberapa waktu lalu Putri K.H Mustofa Bisri (Gus Mus), Ienas Tsuroiya, tampak begitu lelah. Ia lelah menjelaskan di akun media sosialnya, kebenaran terkait berita tentang ayahnya. Mbak Ienas mengetahui dengan tingkat ainul yaqin, di atas ilmul yaqin. Ia tahu dengan mata kepala dan matahatinya bahwa ayahnya tidak mengatakan apapun terkait satu kontroversi puisi. Tetapi serangan tak percaya kepadanya secara bertubi-tubi, melalui kata-kata kasar dan tak sopan, bisa jadi membuat hatinya luka.

Ia sampai menulis judul di timeline miliknya Hilangnya Akal Sehat. Ini kata-kata yang disetarakan dengan ruh sakit. Waktu itu saya hanya memberi nasehat pada putri guru saya itu: “Tinggalkan bicara dengan orang yang sedang marah, karena tidak akan engkau temukan kejernihan pikirannya,” sembari mengingatkan Mbak Ienas untuk tetap menjaga kesehatan.

Apa yang dialami Mbak Ienas hanya satu contoh kecil. Entah sudah berapa bulan ruang maya kita dipenuhi lalu lalang suara-suara dan nada-nada kemarahan dan kebencian manusia atas manusia. Ekspresi-ekspresi kemarahan dan kebencian itu muncul dalam rupa tulisan di berbagai ruang sosial. Begitu mudahnya orang memuntahkan kemarahannya terhadap orang lain yang tidak disukainya, meski untuk hal-hal sepele. Sedikit-sedikit marah. Ada apakah gerangan?

Lalu apakah kemarahan itu? Makna kemarahan disini dibatasi pada makna marah atau al-Ghadhab pada marah yang buruk. Bukan marah yang baik atau marah karena sayang. Ada banyak definisi yang dibuat orang. Antara lain yang dapat saya kutip: “Marah adalah refleksi psikologis yang diakibatkan oleh darah yang mendidih karena adanya ancaman yang bisa menghilangkan kenyamanan dan kesenangan diri.” Dengan kata lain refleksi penolakan yang muncul dari situasi jiwa yang terancam. Ini menurut kacamata psikolog.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Umuluddin, kitab yang terkenal itu, menyatakan dengan nada puitis: “Marah adalah nyala api yang dipetik dari api neraka yang naik ke ulu hati di dalam dada. Api itu terpendam dalam lipatan hati, sebagaimana bara api yang menyelinap di bawah abu.

Marah yang tak terkendali akan berkembang menjadi agresi, kekerasan dan tindakan destruktif lainnya. Marah dan membenci orang telah menyia-nyiakan begitu banyak waktu, menghabiskan energi secara percuma dan malah membuat diri sendiri sakit dan menyakiti orang lain. Bahkan dunia sekitar menjadi buram muram. Wajah-wajah jadi kusam dan masam, tak bercahaya.

Masyarakat kita akan mengalami stress, depresi, kegilaan dan tanpa produktifitas, manakala masih saling berburuk sangka, merendahkan, marah, mencaci-maki dan membenci. Tetapi betapa indahnya hidup dan kehidupan ini jika pikiran dan energi masyarakat dikerahkan untuk kerja-kerja yang baik, saling membagi manfaat dan kebahagiaan bagi dunia manusia dan alam. Hidup dan kehidupan ini akan menjadi indah dan bercahaya, manakala manusia saling bicara jujur dan santun, saling mengasihi, berbaik sangka dan membantu dengan tulus.

Disunting dari refleksi KH. Husein Muhammad (Pimpinan Pondok Pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon) [pelitaperdamaian.org]

Komentar Anda

komentar