Hari ini (22/8) sebagian besar umat Islam di Indonesia merayakan Idul Adha. Ada pula yang telah merayakannya lebih dulu di hari sebelumnya. Pada hari raya ini, umat Islam berkumpul pada pagi hari dan melakukan salat Ied bersama-sama. Setelah salat, dilakukan penyembelihan hewan kurban, untuk memperingati perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang menyembelih domba sebagai pengganti putranya.

Namun, momen hari raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ritual ibadah keagamaan bagi umat Islam. Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) K.H Said Aqil Siradj, ada makna yang begitu luas di balik perayaan hari raya kurban.

Kyai Said mengatakan, di dalam Islam ibadah tidak hanya dimaknai sebagai hubungan spiritual antara manusia dengan Tuhan. Namun, beribadah juga bisa diartikan sebagai sarana untuk memperbaiki hubungan horizontal, antara manusia dengan sesamanya. Dia pun mencontohkan hari raya Idul Adha yang menjadi pengingat bahwa manusia harus memiliki kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitarnya.

Idul Adha itu hari raya kurban. Ada simbol kepedulian sosial terhadap sesama di sana,” ujar Kyai Said Aqil dalam satu momen perayaan Idul Adha di pondok pesantren asuhannya, Pesantren Al-Tsaqafah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. “Ibadah dalam Islam itu bukan hanya ibadah vertikal saja tapi lebaran hari raya yang semua umat bergembira, seluruh umat Islam harus ikut bergembira. Minimal hari ini ikut makan daging. Semua makan, jangan sampai ada yang tidak dapat makan,” kata dia.

Momen Idul Adha, lanjut Said Aqil, juga menjadi penanda tingginya tingkat toleransi masyarakat Indonesia. Di beberapa daerah seperti di Jawa Timur, tidak jarang umat yang tidak beragama Islam juga ikut meramaikan hari raya kurban dengan ikut menyumbangkan kambing dan sapi untuk dikurbankan. Bahkan pembagian, daging itu diberikan untuk semua orang memandang agama orang yang menerima daging kurban. “Mereka juga ingin ikut merayakan. Ini kan bisa mempererat hubungan sosial,” ucapnya.

Dalam konteks keindonesiaan, ulama kelahiran Cirebon ini menekankan bahwa Idul Adha juga mengangkat nilai keadilan sosial, yang merupakan sila kelima dari Pancasila. “Apalagi kita punya sila kelima yang paling sulit diwujudkan, dan hingga kini masih jauh dari harapan. Upaya zakat, infak, sodakoh kurban inilah implementasi sila kelima yaitu ada kesungguhan kita mengimplementasikan sila kelima,” jelasnya.

Sumber: Kompas.com

Komentar Anda

komentar