Terinspirasi oleh teori ‘tahapan iman’ yang dikembangkan James Fowler, saya mencoba menyusun lima tahapan kematangan umat Beragama dalam konteks Indonesia:

Tahap Pertama, tahap yang paling rendah adalah umat beragama yang berjuang hanya demi kepentingan kelompoknya saja. Sikap terhadap umat yang berbeda sangat bermusuhan. Umat yang berbeda dituding sesat, musuh atau anak setan yang wajib diperangi. Kelompok ini yang disebut ekstrimis sebagai pengganti kata radikal.

Tahap Kedua, umat beragama yang tidak lagi berpikir untuk memerangi umat lain tetapi menganggap umat lain lebih rendah. Jadi, kecenderungannya hidup eksklusif dan segregatif, tak mau bergaul dengan yang lain, dan cenderung mendiskriminasi umat lain. Meski tidak ada konflik, relasinya dingin dan tegang. Kalau pun ada relasi maka tujuannya adalah proselitisme, menobatkan mereka yang berbeda alias memenangkan jiwa.

Tahap Ketiga, umat beragama yang bersedia bergaul  dengan umat lain dalam segala lapangan kehidupan. Agama ditempatkan dalam urusan privat. Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Meski demikian tak ada upaya untuk berdialog untuk saling memahami dengan umat lain.

Tahap Keempat,  umat beragama yang aktif berupaya menjalin dialog, kerjasama dan persahabatan dengan siapa pun. Ia tidak akan mempersoalkan agama sang pemimpin dan bahkan tidak juga mempersoalkan perpindahan agama atau pernikahan lintas agama. Sikapnya bukan karena ia menyamakan agama tetapi menghargai perbedaan yang ada.

Tahap Kelima adalah umat beragama yang mampu berdialog, selalu menjalin hubungan persaudaraan dengan umat beragama mana pun, mampu mendiskusikan perbedaan agama secara santai dan saling memghormati, dan bahkan bersedia melakukan pembelaan terhadap umat beragama manapun atau siapa pun yang mengalami diskriminasi. Nah, orang Indonesia yang sudah memasuki tahap kematangan seperti ini adalah Gus Dur, Buya Syafii dan Romo Mangun.

Anda berada di posisi mana?

Penulis: Pdt. Dr. Albertus Patty

Komentar Anda

komentar