Ini terjadi di Pekan Batang Kuis, Deli Serdang, Sumatera Utara, pada hari Selasa (28/04/2020). Warung kopi ibu Lamria Manullang jadi korban diamuk sekelompok massa FPI karena buka di bulan puasa.

Mereka melakukan merusak warung tersebut dan memaksa supaya warung itu ditutup karena saat ini umat Muslim sedang menjalankan ibadah puasa.

Semua gelas-gelas, kursi, dan meja dijungkirbalikkan sama para preman bersorban itu. Padahal ibu Manullang ini hanya jualan kopi khusus untuk para sopir.

Kasihan sekali inang ini sampai memohon belas kasihan bagaimana keluarganya bisa makan kalau warungnya dirusak dan dipaksa tutup.

Dalam situasi ekonomi susah di musim Corona ini urusan periuk orang diobrak-abrik dengan sok jagonya. Mau makan apa Inang itu dan keluarganya kalau dia tidak jualan?

Ulah biadab FPI ini sangat merugikan agama Islam karena bukan gambaran dari ajaran agama Islam yang sesungguhnya.

Kalau FPI mau puasa, puasa saja sampai kalian mati. Tapi jangan ganggu periuk nasi orang lain. Indonesia umatnya berbeda-beda, dan itu diakui negara.

Apa gunanya kalian beragama dan merasa paling beriman dan paling taat beribadah, tapi kelakuan beringas kayak setan. Salah didikan atau salah di otak? Pakaian agamis, tapi kelakuan iblis. Sadar bung Indonesia bukan negara Islam, tapi mayoritas Islam.

Orang berpuasa itu menahan hawa nafsu, termasuk menahan nafsu amarah, lah ini kok sampai memaki dan merusak barang-barang milik orang miskin.

Puasa itu urusan kalian sama Allah. Jangan memaksakan kehendak kalian agar orang Kristen yang tidak puasa harus juga ikut menahan lapar. Kurang ajar sekali.

Coba kalau kalian berani datang ke Papua atau Flores terus sweeping warung makan yang buka di sana. Berani nggak? Pilihannya hanya dua, kepala putus atau jantung tembus kena tombak.

Jadi sudahlah, puasa itu urusan agamamu. Masa kamu yang menjalani perintah agamamu, lantas orang yang tidak ada urusan dengan ibadahmu kamu larang buka warung dan merusaknya dengan beringas.

Jangankan tirainya ditutup, itu warung mau dibuka lebar-lebar pun itu hak orang yang lagi mencari nafkah. Kamu yang puasa menjalani perintah agamamu, kok orang yang agamanya lain juga harus ikut-ikutan lapar? Memangnya Indonesia ini sudah jadi NKRI Bersyariah atau bagaimana?

Warung itu jualan bagi yang tidak puasa yang akan datang makan saat lapar. Kok mereka yang ngaku-ngaku puasa, bukannya diam di rumah, tapi sudah tau lagi puasa, malah datangin warung makan?

Sengaja bikin rusuh supaya negara ini ribut antara orang Kristen lawan orang Islam. atau bagaimana? Nanti saat Lebaran datang ngemis-ngemis minta THR. Tidak ada malunya sama sekali atau barangkali mereka ini memang tidak punya kemaluan.

Tindakan persekusi ala premanisme macam begini ini adalah bentuk street justice yang harus ditindak tegas tanpa Materei Rp 6 ribu. Kita ini negara hukum, bukan negara hukum rimba.

Apa susahnya membiarkan orang berjualan? Heran. Memangnya orang yang niat puasa akan tergoda untuk membeli? Kalau memang sudah niat berpuasa orang tidak akan jadi nlbatal puasa karena melihat warung buka.

Saya sampai detik ini masih tidak habis pikir. Mereka yang puasa tapi maksa yang tidak puasa harus ikut aturan ajaran dan keyakinannya serta keinginan mereka.

Bukan begini caranya, boss. Ini jelas-jelas ente merugikan rakyat kecil yang sedang cari nafkah. Jangan mencari pembenaran sendiri dengan kedok agama.

Dimana-mana yang namanya puasa itu menahan hawa nafsu. Bukan hanya soal hawa nafsu untuk tidak makan dan tidak minum saja, akan tetapi juga menahan hawa nafsu amarah.

Karena yang namanya orang beribadah pasti ada godaannya, salah satunya melihat orang makan. Kalau iman ente kuat dan memang niat mau benar-benar puasa, tentunya takkan tergoda walaupun orang makan didepan muka lu, bukan?

FPI ini sudah seharusnya dibubarkan. Bukankah mereka ini ormas ilegal yang sudah tidak ada ijinnya lagi? Kok masih bebas berkeliaran bikin onar?

Setan berkedok jubah agama yang instingnya selalu merusak. Manusia Dajjal barbar dengan berjubah putih ini bikin diri seolah-olah mereka ini lebih suci dari orang lain, padahal kelakuan mereka seperti binatang.

Sampai kapan mereka terus dibiarkan menjadi hakim jalanan yang seenak udelnya dan semau-maunya menghakimi siapa saja sesuka hati mereka?

Sampai kapanpun para oknum laknat yang merasa diri mayoritas di negara ini akan tetap seperti bikin ulah terus jika materai Rp 6 ribu menjadi pendamai.

Minoritas protes penjara hukumannya, giliran mayoritas intimidasi sampai pengrusakan, selesainya dengan materei Rp 6 ribu. Dimana keadilan itu?

Mohon aparat segera tangkap dan tindak para preman berjubah agama pelaku persekusi itu tanpa materei Rp 6 ribu lagi. Sudah itu saja.

Sumber: seword

Bagikan

Komentar Anda

komentar