Konferensi Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kembali digelar tahun ini. Konferensi yang keempat kalinya ini berlangsung mulai Kamis (6/9) di Tarakan, Kalimantan Utara.

Dalam sambutannya mewakili Presiden RI, Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Peradaban, Prof. Dr Din Syamsuddin, MA mengatakan, pada dasarnya FKUB tidak hanya berfungsi dan beperan sebagai penyelesai awal jika terjadi permasalahan. Namun, harus berfungsi sebagai penyedia awal. Untuk itu, setiap tokoh agama tidak hanya menjadi sebagai pemadam, sebab jika terjadi kebakaran, maka tidak akan mudah memadamkannya.

Bangsa ini terlalu rentan SARA, Indonesia itu diteguhkan di tengah jalan dan dibangun lebih dari rasa senasib sepenanggungan,” ujar Din Syamsuddin.  “Di era globalisasi, bangsa ini sebenarnya rentan terhadap perpecahan, baik liberasi, politik dan ekonomi, makanya FKUB ini sangat penting, kerukunan yang menjadi kebutuhan sosiologis harus dipertahankan,” sambungnya.

Din berharap agar FKUB tak hanya bergantung pada dukungan finansial. Untuk itu, ada atau tidaknya sebuah anggaran, harus membuat FKUB terus bergerak menciptakan kerukunan. Apalagi dengan adanya demokrasi di 2019 mendatang, Din berharap agar setiap masyarakat tidak terpancing isu SARA.

Luar biasa ujaran kebencian mengisi ruangan hari-hari masyarakat Indonesia. Saatnya agama-agama mempersatukan bangsa ini. Saya berharap konferensi FKUB ini dapat berfungsi nyata dalam kehidupan bangsa Indonesia yang memerlukan sentuhan kearifan,” tutur tokoh yang juga pernah menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah ini.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Utara, H. Irianto Lambrie mengatakan, sangat mendukung pelaksanaan konferensi nasional FKUB  IV ini di Kalimantan Utara. Pihaknya bahkan memberikan anggaran daerah khusus saat menjadi tuan ruam acara ini.

Lewat dukungannya itu Irianto Lambrie menyampaikan agar seluruh pengurus FKUB dapat bersifat pro aktif yang cerdas agar dapat digunakan sebagai instrumen bagi pemerintah pusat maupun daerah. “Kalau pertemuan seremonial seperti ini kan membutuhkan biaya yang cukup besar. Jadi kalau selesai begitu saja kita rugi. Tapi ini kepentingan untuk masyarakat Indonesia jangka panjang,” pungkasnya.

Sumber: kabartarakan.com

Komentar Anda

komentar