Sinagoge itu terletak di pulau Djerba, suatu pulau kecil di Tunisia. Namanya biasa disebut El-Ghriba. Sinagoge El-Ghriba ada di desa kecil Hara Seghira (Ar-Riadh) tempat bermukimnya sekitar 1.400 warga Yahudi Tunisia. Ini merupakan sinagog tertua di Afrika, yang telah ada di lokasi tersebut sejak abad ke-6 Masehi.

Warga Yahudi percaya bahwa orang-orang yang berdoa Sinagoge Ghriba, permintaannya akan dikabulkan. Banyak orang yang mengunjungi tempat ini, seperti kisah Afif Yedder dan rekannya, Karen, yang berasal dari wilayah ini.

Lima tahun lalu, Yedder mengaku pernah berkunjung dan doa-doanya tak lama terkabulkan.  “Saya pernah berdoa untuk seorang teman yang tengah mengalami kesulitan memiliki keturunan saat itu. Dan sekarang, dia telah memiliki seorang anak laki-laki berusia tiga tahun,” kata perempuan itu sambil tersenyum.

Kali ini, Yedder kembali ke Sinagoge Ghriba bersama Karen, teman kecilnya yang beragama Yahudi. Mereka dipersatukan kembali via Facebook setelah terpisah sejak remaja karena Karen pindah ke Prancis.

Selain berdoa, ziarahnya kali ini dimanfaatkan untuk bernostalgia, mengingat masa kecil mereka yang dihabiskan bersama di sebuah distrik di Tunisia. Di distrik tersebut, Yadder dan Karen hidup bersama dengan tetangga-tetangga lainnya yang juga merupakan umat Muslim, Yahudi, dan Kristen. Ziarah Yedder tahun ini ke Sinagoge Ghriba juga bertepatan dengan bulan suci Ramadan.

Para umat Muslim dan Yahudi di daerah itu juga semakin menunjukkan bentuk saling berbagi. Mereka berbagi makanan cepat saji, menikmati momen buka bersama. Momen itu disebut sebagai simbol hidup bersama di tengah keberagaman yang ingin coba dipromosikan Tunisia.

Yedder bukanlah satu-satunya Muslim yang berziarah ke sinagoge tersebut. Ada beberapa penganut Muslim lainnya di antara pengunjung sinagoge pada hari itu. Mereka sempat kaget lantaran diminta untuk melepaskan alas kaki ketika masuk ke tempat suci tersebut.

Kami tidak sedang berada di masjid kan?” kata salah satu umat Muslim yang ikut rombongan itu sambil tertawa.

Menurut sejarawan Perancis, Dominique Jarasse, semakin banyak umat Muslim yang berziarah ke sinagoge di Tunisia, terutama Sinagog Ghriba, selama 15-20 tahun terakhir. Hal itu, kata Jarasse, disebabkan oleh situasi politik belakangan yang terus memanas hingga menyinggung ranah agama sehingga orang-orang ingin menunjukkan toleransi dan hidup berdamai antar-umat.

Untuk waktu yang lama, mereka (umat Muslim) hanya menjadi penonton. Namun, sekarang ada bentuk penerimaan, yang menghubungkan situasi politik dengan pariwisata-sehingga orang ingin menunjukkan betapa tolerannya Tunisia,” kata Jarasse.

Sumber: cnn

Komentar Anda

komentar