Kita mengenal dari sejumlah pustaka bahwa Laksmanana Tiongkok, Cheng Ho, adalah seorang Muslim dan termasuk berjasa menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Namun, ia bukan hanya milik umat Islam. Masyarakat Tionghoa, terutama di wilayah Jawa, tetap menghormati dan selalu memeringati kedatangannya setiap tahun.

Laksamana Cheng Ho terkenal pada masa Dinasti Ming (1400-an M). Kala itu ia dipercaya memimpin armada laut Tiongkok mengarungi penjuru dunia dengan misi diplomasi perdamaian, dagang dan bertukar kebudayaan. Ia datang ke Nusantara, dan membawa sejumlah warga Tionghoa menetap di Jawa. Perayaan kedatangannya ini, selalu dirayakan tiap tahun, termasuk oleh masyarakat Kota Semarang yang selalu menggelar kirab budaya di peringatan ini.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengapresiasi pelaksanaan kirab budaya untuk memperingati kedatangan Laksamana Cheng Ho atau Sam Poo Tay Djien ke-613 di Kuil Sam Poo Kong, Minggu (12/8). Menurut Hendrar pelaksanaan kirab ini merupakan simbol kerukunan umat beragama di Kota Semarang.

Tak cuma itu, dia juga memuji pelaksanaan kirab yang menurutnya semakin baik. “Semakin hari penyelenggaraan event ini semakin menarik dan semakin lebih baik. Ini terlihat dari sekitar ratusan ribu orang yang berkumpul untuk menyaksikan kirab berlangsung,” ujar Wali Kota yang biasa disapa Hendi.

Kirab budaya ini diikuti oleh ribuan umat Tri Dharma, yaitu Buddha, Konghucu dan Tao. Mereka datang dari berbagai kota di Tanah air. Rute kirab sendiri berlangsung dari Kelenteng Tay Kak Sie di Jalan Gang Lombok menuju Kelenteng Gedung Batu Jalan Simongan.

Antusiasme umat yang ikut kirab ini luar biasa, banyak yang datang dari luar kota hanya untuk mengikuti prosesi jalan kaki menuju Gedung Batu,” ungkap Ketua Panitia Kirab Yoe Yoe Hok di sela-sela acara. Menurut panitia, total panjang rombongan yang ikut dalam kirab sekitar satu kilometer.

Rombongan terdepan diisi pembawa bendera merah putih, kemudian sosok yang dihormati dalam budaya Tionghoa, seperti Dewi Kwan Im dan tokoh lainnya. Setelah itu, rombongan grup kesenian Liong dan Barongsai dari Naga Doreng. Baru kemudian kimsin (arca) beberapa sosok suci, termasuk patung Laksama Cheng Ho.

Rombongan berangkat dari Jalan Gang Lombok tepat pukul 05.00. Rute yang mereka lewati, yakni Jalan Wotgandul, Jalan Kranggan, Jalan Depok, Jalan Pemuda, Jalan Mgr Soegiyopranoto, Jalan Bojongsalaman dan Jalan Simongan. Yoe Yoe Hok menjelaskan, prosesi kirab tersebut untuk memberikan penghormatan kepada arca Laksamana Cheng Ho yang ada di Kelenteng Gedung Batu. Sementara itu, arca dari kelenteng Tay Kak Sie merupakan replika.

Istilahnya, kimsin Sam Poo Tay Djien di Kelenteng Besar Tay Kak Sie ‘disowankan’ ke arca asli. Ritual seperti ini sudah berlangsung puluhan bahkan ratusan tahun dan akan terus kami lestarikan,” jelasnya.

Rombongan sampai di Kelenteng Sam Po Kong sekitar pukul 08.00. Mereka lalu melakukan upacara sembahyang bersama. Baru pada pukul 12.00 rombongan pulang ke Kelenteng Tay Kak Sie dan mampir ke beberapa Kelenteng yang ada di kawasan Pecinan Kota Semarang.

Kirab ini memang sarat makna dan penghayatan. Hindarto salah seorang panitia pelaksana, menjelaskan tujuan utama kirab ini sebagai sebuah harapan. “Kegiatan ini diharapkan membawa berkah bagi seluruh umat terutama untuk kesejahteraan keluarga dan kelancaran dagang serta pemersatu seluruh umat,” jelas Hindarto.

Sumber: kompas.com; kumparan.com

Komentar Anda

komentar