Dia mah jadi dosen itu sampingan, utamanya aktivis,” canda Henny Yuningsih terkait aktivitas suaminya, Kiagus Zaenal Mubarok. Tentu saja, itu tidak berarti suaminya yang adalah ketua FLADS ini, kurang tahu persoalan kampus. Minggu malam itu (7/5), justru pria yang aktif disapa Deden itu, tengah serius berbagi keprihatinan sekaligus optimisme dalam mendidik anak-anak muda tentang kebhinekaan.

Sebagai seorang dosen di kampus Fakultas Ilmus Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, Deden mengakui sudah bukan rahasia kalau kampus-kampus negeri kerap menjadi lahan yang subur berkembangnya ekstrimisme agama. Ada kelompok-kelompok yang menyebarkan diskursus agama dengan cara instan. Ini memang memberi semangat bagi anak-anak muda yang ingin melakukan perubahan mendasar. Namun, terperangkap oleh ekstrimisme yang dangkal, yang sarat kepentingan politis.

Meski selalu berusaha memberi wacana penyeimbang, Deden mengakui tantangan mendidik anak muda soal keberagaman memang kian mencuat belakangan ini. Lingkungan sekitar yang kadang kurang terpapar keberagaman, gencarnya pemahaman agama yang serba instan dengan pendekatan serba mutlak, serta munculnya kepentingan politis dalam dakwah agama, sering menjadi tantangan terbesar hingga banyak keluarga dan generasi masa kini yang tidak bisa menunjukkan sikap menerima keberagaman.

Pria yang menjabat wakil ketua pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat ini menilai hal terpenting adalah anak-anak muda itu diberi pemahaman yang kritis. Utamanya dengan dialog yang setara. Lalu melihat sendiri teladan, untuk kemudian bisa terlibat dalam upaya mendukung keberagaman. Hal tersebut menurutnya penting sekali dimulai sejak di keluarga.

Ya kalau anak bertanya, langsung dijawab dengan terus menumbuhkan rasa ingin tahu. Dialognya setara. Jangan lupa dijawab juga dengan teladan, lewat aktivitas misalnya,” ujarnya mencontohkan apa yang dia lakukan bersama istri di keluarga.

Henny, sang istri, menceritakan dua putri dan dua putra mereka memang sering terpapar di lingkungan yang kadang membibitkan intoleransi. Namun, karena suami-istri ini sudah ‘seakidah’ terkait pemahaman keberagaman, anak-anak tetap bisa kritis terhadap pesan-pesan intoleransi tersebut.

Anak-anak sih lebih sering nanya ke saya: Kenapa sih papa dan mama sibuk dengan teman-teman yang non-Muslim. Buka puasa malah di gereja, natalan juga datang ke katedral,” cerita Henny. “Saya biasanya menjelaskan dalam bahasa yang mudah mereka mengerti. Itu justru jadi semacam filter saat dia bergaul dengan rekan-rekannya. Bahkan dengan guru agama atau seniornya di kegiatan rohani,” lanjutnya.

Suami-istri ini mengakui ada kebutuhan parenting yang khas di masa sekarang. Keluarga-keluarga muda umumnya sibuk, kurang punya waktu dengan anak. Kadang juga kurang memperhatikan lingkungan dan pendidikan anak, yang harusnya tidak mengabaikan pesan untuk menghormati keberagaman.

Makanya, sesekali mungkin perlu seminar dan diskusi terkait parenting yang sifatnya mengajarkan toleransi sejak masih belia,” usul Deden. “Selama ini kan kita diskusinya bertema teologis dan advokasi. Nah… itu akan bisa dilengkapi sampai ke level yang lebih mendalam seperti di keluarga.

Nampaknya pria kelahiran Bandung, lima puluh empat tahun silam itu sadar sepenuhnya bahwa teladan keluargalah yang membentuknya menjadi orang yang memperjuangkan keberagaman. Meski banyak menimba pendalaman terkait toleransi lewat aktivitasnya di berbagai organisasi, Deden menyadari teladan ayahnyalah yang pertama kali membukakan hatinya akan pentingnya toleransi.

Deden masih mengingat saat pecah kerusuhan rasial di Bandung 1973. Seorang warga Tionghoa, datang ke rumahnya. Ayahnya, yang seorang pemimpin warga setempat waktu itu, menerima dengan terbuka, agar beliau tinggal beberapa lama, menyelamatkan diri.

Baginya itulah teladan yang menggerakkan hati. Jauh sebelum Deden mengenal atsar khas Nahdliyin yang diajarkan KH Hasyim Asyari – hubbul waton minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman), dan trilogi ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, ukhuwah insaniyah (persaudaraan dalam Islam, persaudaraan dalam kebangsaan dan persaudaraan dalam kemanusiaan) – matanya telah melihat atsar-atsar itu dengan apik diteladankan sang ayah. Resep keluarga untuk toleransi itu justru membimbingnya hingga kini, melakukan semua aktivitas yang mendukung keberagaman. **arms

Komentar Anda

komentar