Seorang calon pendeta sedang berlatih untuk menyampaikan khotbah pertama di hadapan jemaat. Ia begitu gugup sehingga menemui seorang pendeta senior untuk meminta saran.

Anda bisa saja memulai dengan frasa yang mengejutkan untuk menarik perhatian,” saran si pendeta senior. “Misalnya saya bilang begini: ‘Dalam tahun-tahun terbaik di hidup saya, saya pernah tidur di pelukan seorang perempuan yang bukan istri saya…’”

Si calon pendeta kaget. Namun buru-buru pendeta senior meluruskan: “Perempuan itu adalah ibu saya.

Calon pendeta itu pun mengerti maksud frasa yang mengandung unsur kejutan di pembuka khotbah itu. Ia berencana ingin memakainya sebagai pembuka.

Di hari ia memulai khotbah pertama, ia masih begitu gugup. Selesai doa pembuka dan sedikit perkenalan yang ia lalui dengan gemetar, ia pun mulai dengan berkata: “Saudara-saudari sekalian… saya… saya harus mengakui… bahwa dalam tahun-tahun terbaik di hidup saya, saya… saya… pernah tidur di pelukan seorang perempuan yang… bukan istri saya…”

Jemaat yang mendengar hal itu menunjukkan ekspresi kaget dan menunggu penjelasan berikutnya. Sayangnya itu membuat si calon pendeta semakin gugup, hingga ia sulit mengingat kalimat berikutnya.

Perempuan itu adalah… perempuan itu…. adalah… ” ia berusaha keras mengingat.

Akhirnya si calon pendeta hanya bisa berkata: “Sayangnya saya lupa… siapa perempuan itu.

Sumber: rd.com

Komentar Anda

komentar