Tepat di Hari Raya Imlek (16/2), masyarakat memenuhi halaman Klenteng Eng An Kiong Kota Malang, Jawa Timur. Warga berdatangan guna menyaksikan perayaan di klenteng tertua di Kota Malang itu.

Kemeriahan dan keramaian kegiatan seperti ini memang sudah menjadi kegiatan rutin di klenteng yang dibangun tahun sejak 1825 itu. Setiap perayaan Imlek klenteng selalu menyajikan aneka pementasan untuk masyarakat. Aneka kesenian etnis Thionghoa ditampilkan dengan persiapan yang matang dan terbuka untuk banyak orang. Salah satu andalan yang ditawarkan adalah aksi barongsai dan liangliong. Aksi ketangkasan yang membuat penonton deg-deg plas menjadi hiburan musiman bagi masyarakat yang datang.

Saya setiap tahun ke sini, pas Imlek. Tapi tahun kemarin terlambat sehingga tidak bisa melihat barongsainya,” kata Anna Irawati, salah seorang warga yang mengungjungi Klenteng Eng An Kiong Kota Malang, Jumat (16/2).

Anna sengaja berangkat pukul 05.00 WIB dari rumahnya di Turen, yang berjarak sekitar 30 Km. Ia berharap agar bisa mengikuti pertunjukan dari awal sampai akhir. Selain itu, kata Anna, sekalian untuk berlibur bersama anak-anak, karena memang sedang hari libur panjang. Anna dan keluarga juga sempat berfoto dengan grup barongsai yang sengaja akan diupload di media sosial.

Seru, tadi melihat barongsainya meloncat di tumpuan kayunya. Kan, yang begini juga tidak ada di kampung,” katanya. Anna merasa, kehadirannya di Klenteng sebagian dari upayanya mengenalkan budaya orang lain. Keberagaman budaya akan membangun toleransi. “Yang seperti ini kan mempersatukan umat beragama, walaupun muslim kita bisa menikmati barongsai,” komentarnya.

Sementara pengunjung lain, Wibawa Wandira berkunjung ke klenteng untuk menghormati keluarga dan leluhurnya. Wibawa memberikan ucapan selamat Hari Raya Imlek kepada para pengunjung lain yang berdatangan.

Saya ini memang mualaf. Meski tidak ikut sembahyangnya, tetapi tetap hadir, sebagai penghormatan pada leluhur,” tegas Wibawa.

Usai acara pementasan barongsai, selanjutnya digelar acara persembahyangan di ruang utama klenteng. Bunyi lonceng menandakan upacara segera dimulai. Secara khusyuk umat Tri Darma (Sam Kauw), yang terdiri dari Konghucu, Buddha dan Tao bersembahyang bersama.

Sumber: merdeka.com

Komentar Anda

komentar