Desa Wirotaman tampak cerah. Di pagi hari, desa yang ada di pedalaman Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Ampelgading, itu terbilang lengang. Warga terlihat menjalankan aktivitasnya, kebanyakan sebagai petani.

Di balai desa, sejumlah orang terlihat asyik bercengkrama. Di antara mereka ada M Repan Efendi, Suwardi dan Hari Cahyono Adi. Mereka adalah tokoh agama di desa tersebut. Masing-masing dari mereka adalah tokoh Agama Islam, Hindu dan Kristen. Tidak ada sekat, mereka mengobrol tanpa memandang agama masing-masing. Sesekali mereka tertawa dengan obrolannya sendiri. Sikap yang akrab tercermin di antara mereka.

Tidak jauh dari balai desa, berdiri bangunan Masjid Baitut Taqwa, yang berdiri sejak 1970-an. Tidak jauh setelahnya, terdapat Pura Siwa Lingga yang berada di atas perbukitan. Kemudian, sekitar 50 meter dari Pura itu, berdiri bangunan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW).

Total, ada 11 tempat ibadah utama di desa tersebut. Terdiri dari lima masjid, tiga pura dan tiga gereja. Berdasarkan cacatan pemerintah desa setempat di tahun 2017, pemeluk Agama Islam di desa itu sebanyak 3.183 orang. Sementara pemeluk Agama Kristen Protestan sebanyak 659 orang. Sedangkan pemeluk Agama Hindu berjumlah 298 orang. Umat Katolik ada berjumlah empat orang.

Meski terdiri dari berbagai pemeluk agama, hampir tidak terdengar ada perselisihan antar-warga di desa seluas 744,5 hektar tersebut. Kerukunan tetap terjaga. Saling menghargai antar-pemeluk agama sudah mendarah daging di dalam kehidupan warga.

Kepala Desa Wirotaman, Ahmad Soleh mengatakan, ada tradisi yang membuat kerukunan dalam beragama itu tetap terjaga, yaitu silaturahmi. Setiap ada hari besar keagamaan, pemeluk agama yang lain datang ke rumah tetangganya yang sedang merayakan hari besar keagamaan untuk mengucapkan selamat.

Tidak hanya itu, di dalam kehidupan sosial, warga di desa tersebut selalu mengedepankan asas kebersamaan dan gotong-royong, antar-pemeluk agama sekalipun. Jika ada satu warga yang membutuhkan pertolongan, mereka dengan sukarela menolong tanpa memandang latar belakang agamanya. Bagi mereka, menolong adalah sebuah kewajiban bagi yang membutuhkan.

Kalau mau menolong masih melihat agamanya, ya nanti tidak jadi menolong,” kata Suwardi, salah satu tokoh Agama Hindu.

Hal yang sama disampaikan oleh Hari Cahyono Adi, seorang tokoh Agama Kristen. “Misalnya ketika ada pembangunan mushala, kami yang non-muslim ikut membantu,” jelasnya.

Berada di pelosok tidak membuat warga Wirotaman terisolasi dari informasi luar. Tidak terkecuali informasi tentang konflik antar-agama yang kerap terjadi di sejumlah daerah. Seperti pembakaran tempat ibadah dan aksi kekerasan lainnya yang bermotif agama.

Kami tahu. Tapi itu terjadi di sana, jangan sampai terjadi di sini,” kata Ahmad Soleh.

Kalau ada sesuatu, semua tokoh agama berkumpul. Biasanya hal seperti itu dikembalikan ke internal. Kita menyampaikan kepada umatnya supaya jangan ikut-ikut. Dalam ajaran Hindu, aku sama dengan kamu. Jangan memandang dari agamanya,” tambah Suwardi.

Sebenarnya, ada potensi perselisihan yang bisa saja terjadi di desa tersebut. Yakni soal pernikahan. Kehidupan sosial yang berbaur tanpa memadang agama tidak jarang membuat kisah asmara antar-pemeluk agama terjadi. Di sisi lain, aturan yang ada di Indonesia belum memfasilitasi pernikahan dua pemeluk agama yang berbeda.

Untuk itu, para tokoh agama di desa itu sudah sepakat memasrahkan sepenuhnya kepada kedua mempelai. Keduanya diminta berembuk untuk menentukan agama yang akan dianutnya kelak setelah menjadi satu keluarga. Apakah istrinya yang akan ikut suaminya dan memeluk agama yang dianut suaminya, atau sebaliknya.

Pemandangan seperti itu sudah lumrah terjadi di desa tersebut. Namun, setiap warga yang ingin berpindah agama harus menulis surat pernyataan dengan diketahui oleh tokoh agama masing-masing.

Para tokoh ini kan juga membina. Sesuai dengan Undang-undang Dasar, setiap warga punya hak untuk memilih keyakinan masing-masing. Tapi harus membuat surat pernyataan dari diri sendiri bahwa akan menikah dan pindah agama dengan diketahui oleh tokoh agama,” jelas Hari.

Kerukunan beragama di Desa Wirotaman tidak hanya tercermin dari kehidupan sosial. Saat meninggal, mereka pun tetap menunjukkan kerukunannya. Tidak ada pemisahan makam di desa itu. Semua warga sudah bersepakat untuk tidak membeda-bedakan tempat peristirahatan terakhirnya.

Warga di Desa Wirotaman terus berupaya untuk melestarikan kerukunan antar-pemeluk agama. Generasi muda adalah poin utama untuk menjaga kerukunan itu supaya tetap lestari. Saat ini, masing-masing para tokoh agama di desa itu sudah membekali para generasi muda dengan pengetahuan kerukunan dalam beragama. Saling menghormati dan mencegah terjadi konflik.

Sumber: Kompas.com

Komentar Anda

komentar