Baru-baru ini, warga Kelurahan Cirendeu, Ciputat Timur menyebut wilayahnya sebagai “Kampung Bhineka”. Sejak puluhan tahun wilayah ini dihuni bersama oleh umat Muslim, Kristiani, Buddha, Tao dan Khonghucu.

Dalam berbagai kegiatan semua etnis yang merupakan bagian dari warga di wilayah itu terus terlibat aktif melakukan kegiatan sosial, mulai dari membentuk bank sampah, bakti sosial hingga bercocok tanam di lahan tidur,” terang Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Abdul Rojak. “Kita semua menyadari bahwa untuk hidup damai, nyaman, dan tentram itu diawali dengan kebersamaan,” lanjutnya.

Rojak mencertitakan sebagai upaya mempererat kerukunan antar umat beragama di Kota Tangsel, institusi yang dipimpinnya menginisiasi agar ratusan peserta dari berbagai agama duduk bersama dalam acara talk show bertema “Merajut Kerukunan Antar Umat Beragama di Tangsel dan Banten” di Aula Serbaguna Gereja Katolik St. Barnabas, Pamulang pada Sabtu (7/7) lalu.

Narasumber yang turut hadir dalam talkshow tersebut adalah Imam Besar Masjid Istiqlal Prof. Dr. H. Nasarudin Umar MA dan Romo Beny Susetyo, Pr. Talk show ini juga dihadiri Kapolsek Pamulang, Koramil Ciputat, MUI Tangsel yang diwakili oleh H. Mana, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tangsel yang diwakili Fahrudin Zuhri serta peserta sebanyak 100 orang, terdiri dari berbagai agama.

Abdul Rojak dalam sambutannya memengatakan kerukunan umat beragama di Kota Tangsel berjalan sangat kondusif, aman, dan damai. Hal ini bisa dilihat bahwa masing-masing umat beragama di Kota Tangsel dapat menjalankan keyakinan dan ibadahnya sesuai dengan kepercayaannya masing-masing.

Kerukunan antar umat beragama di Kota Tangsel bukan sekadar slogan, tapi sudah terbukti dan teruji, hal ini sesuai dengan Motto Tangsel yang Cerdas, Modern, dan Religius,” katanya.

Menurutnya, makna religius di sini adalah adanya toleransi yang diberikan kepada umat beragama dengan menjaga keamanan dan kenyamanan, sehingga dapat menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

Kota Tangsel secara demografis memiliki karakteristik heterogen, di mana di dalamnya memiliki banyak suku, agama, ras, dan golongan. Kota Tangsel masuk dalam kategori wilayah dengan kepadatan tinggi,” ujarnya.

Sebagai konsekuensi dari hal tersebut, sambung Abdul Rojak maka potensi untuk terjadinya gesekan antara pihak-pihak yang memiliki perbedaan akan senantiasa ada. Oleh karena itu, baik Pemkot Tangsel maupun Kemenag Tangsel beserta jajaran di bawahnya mengoptimalkan silaturahmi, komunikasi, dan pendekatan kepada tokoh agama atau tokoh masyarakat dari umat atau golongan manapun.

Sumber: suaratangerang.com

Komentar Anda

komentar