Candi Borobudur tidak melulu soal obyek wisata atau tempat ibadah. Bangunan Buddha terbesar di dunia itu juga melambangkan kerukunan masyarakat, sebab dibangun di era kejayaan Kerajaan Hindu.

Namun, kerukunan itu bukan sekedar pengalaman masa lalu. Masyarakat di sekitar wilayah tersebut pun kerap melakukan berbagai kegiatan kemanusiaan melampaui batas-batas agama, suku dan kepentingan kelompok.

Seperti yang dilakukan komunitas Orang Borobudur Bersatu (Obor) saat mengumpulkan donasi untuk disumbangkan kepada masyarakat Lombok yang menjadi korban gempa. Donasi itu dikumpulkan dari masyarakat yang tinggal di sekitar Candi Borobudur dan wisatawan.

Resyoko, koordinator penggalangan donasi untuk Lombok, menjelaskan penggalangan dilakukan selama 8 hari di Komplek Taman Wisata Candi Borobudur dan sekitarnya. “Kami merasa tersentuh dengan bencana gempa di Lombok beberapa waktu lalu. Kami ingin membantu saudara-saudara di sana yang menjadi korban,” ungkap Resyoko, Jumat (7/9).

Mereka mengadakan Festival Payung Indonesia Kelima Obor yang bekerjasama dengan komunitas pengemudi taksi online di Borobudur. Dalam kegiatan itu mereka berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 90.202.000. Dana tersebut kemudian disalurkan melalui PKPU Human Initiative cabang Magelang.

Staf kemitraan KCP PKPU Human Initiative Magelang, Darmanto menambahkan, donasi yang diterima dari Obor selanjutnya akan disalurkan ke PKPU pusat di Jakarta. Seluruh donasi yang terkumpul dari seluruh Indonesia lantas disalurkan langsung ke Pos Aju PKPU yang sudah ada di Lombok.

Donasi itu kemudian akan dibelanjakan bahan-bahan untuk membangun rumah para korban,” beber Darmanto. Ia menjelaskan, masyarakat di Magelang dan Yogyakarta banyak yang peduli dan ikut menyalurkan bantuan melalui lembaga tersebut, mulai dari perorangan, perusahaan swasta, komunitas, dan sebagainya.

Obor berdiri sejak 4 tahun lalu untuk mewadahi warga sekitar Candi Borobudur. Mereka kerap menggelar berbagai kegiatan positif sebagai sarana mempererat kerukunan tanpa membedakan golongan dan agama tertentu. Donasi ini hanyalah bentuk kecil keguyuban yang dituju oleh Obor.

Menurut Resyoko, Candi Borobudur yang megah berdiri di tengah-tengah masyarakat menjadi simbol persatuan. Candi yang dibangun pada abad ke-9 itu memang peninggalan umat Buddha, tapi bisa dirawat dan dipertahankan oleh umat agama lain yang tinggal di sekelilingnya sampai sekarang.

Candi Borobudur tidak hanya tempat ibadah dan wisata yang dikenal dunia, tapi juga cermin toleransi antarmasyarakat di sekelilingnya. Kami ingin tunjukkan masyarakat Borobudur juga peduli,” ucapnya.

Sumber: Kompas.com

Komentar Anda

komentar