Belakangan, komunitas homogen jadi populer, misalnya sekolah berdasar agama, kost-kostan dengan syarat agama, bahkan perumahan pun ada yang berdasarkan agama tertentu. Padahal, anak yang tumbuh dalam keragaman kemungkinan bisa lebih pintar.

Belakangan ini sejumlah petinggi negara dan kepala daerah di Indonesia tiba-tiba lebih rajin mendengungkan wacana soal kebhinnekaan bangsa. Beragam acara dihelat dengan melibatkan masyarakat setempat, di dalam kunjungan kerja disebut-sebut, dan pengurus organisasi kemasyarakatan berbasis agama juga tak mau ketinggalan untuk menggelar apel kebangsaan hingga doa bersama. Tujuannya satu: agar negara tetap bersatu, dan masyarakat kembali stabil.

Semuanya berawal dari tensi politik yang sedang memanas di ibukota dan merembet ke banyak daerah dan memecah belah opini masyarakat. Elit mengkhawatirkan tensi ini akan melahirkan konflik horisontal berdarah. Sementara itu, ada golongan masyarakat yang memperhatikan kondisi sekarang ini bisa berefek ganas: merusak kondisi psikologis anak-anak. Mereka dikuatirkan akan mewariskan konflik di usia dewasa.

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan angkat bicara dalam peringatan Hari Anak Sedunia pada 20 November 2016 lalu. Ia mengatakan anak Indonesia harus bangga lahir dan besar di Tanah Air yang memiliki keragaman luar biasa. Perbedaan budaya adalah kekayaan nasional, dan sudah semestinya untuk dijaga. Namun tak lupa juga bahwa di balik itu juga butuh persatuan yang kokoh. Perbedaan, ujar Zulkifli seperti dipetik Antara, bukanlah sesuatu yang patut dipermasalahkan.

Lewat ideologi dan mottonya, negara kerap mempromosikan wacana serupa tentang persatuan dalam keragaman. Bhinneka Tunggal Ika. Di ranah sosial-budaya, wacana ini berkerja untuk pertama-tama menyadarkan realitas masyarakat bagi seluruh warga negara dan cukup efektif menjadi alat untuk mengurangi gesekan SARA. Namun dalam konteks pendidikan bagi generasi muda, apakah ada manfaat praktis dari menjunjung tinggi keragaman dan meminimalisir homogenitas?

Inovasi
Katherine W. Phillips adalah pembantu dekan senior di Columbia Bussines School. Dua tahun lalu ia memberikan jawaban atas pertanyaan di atas dengan cara menganalisis kumpulan riset dari para ilmuwan, psikolog, sosiolog, ekonom dan ahli demografi sepanjang beberapa dekade terakhir, dipaparkan di laman Scientific American.

Ia tak puas dengan analisis wacana keragaman yang rata-rata menjawab “Anda tak akan bisa membuat mobil tanpa insinyur, desainer, dan ahli penguji kualitas”. Ia benar-benar bertanya, apakah perbedaan berdasarkan SARA dan gender yang tak bisa terhindarkan itu benar-benar memiliki fungsi bagi kemanusiaan itu sendiri, atau justru hanya akan berakhir sebagai legitimasi bagi perpecahan?

Katherine berkesimpulan kita memang memerlukan keragaman itu. Berdasarkan riset yang ia kumpulkan, keragaman melahirkan kreativitas dan innvasi, memprovokasi lahirnya gagasan-gagasan baru, hingga membekali seseorang untuk bersikap lebih bijak saat tumbuh dewasa.

Katanya, jika orang-orang yang berasal dari ras, gender, maupun dimensi kehidupan yang berbeda berkumpul dalam satu forum, masing-masing akan membawa informasi dan pengalaman yang berbeda. Ini menjadi keuntungan sendiri saat kelompok tersebut dihadapkan pada satu tugas bersama yang kompleks. Misal, insinyur perempuan memiliki cara pandang dengan insinyur laki-laki meski berprofesi sama—dan itu adalah hal yang bagus.

Katherine mengutip riset profesor ilmu bisnis Cristian Deszo dari University of Maryland dan David Ross dari Columbia University yang telah meneliti dampak dari keragaman gender di 1.500 firma top di Amerika Serikat yang masuk daftar Standard & Poor’s. Pertama mereka menganalisis besaran komposisi gender di firma top dari 1992-2006, lalu kinerja keuangan perusahaan diteliti. Hasilnya, “keterwakilan perempuan di manajemen puncak mengarah ke peningkatan sebesar $42 juta untuk keuntungan perusahaaan.”

Perbedaan rasial pun akan membawa manfaat serupa. Dalam studi tahun 2003, Orlando Richard, profesor manajemen di Unverity od Texas di Dallas, menyurvei pemimpin dari 177 bank nasional di AS. Ia kemudian menganalisis silang performa finansial perusahaan, keragaman ras karyawannya, dan tekanan dari presiden bank dalam hal inovasi. Untuk bank yang berfokus pada inovasi, peningkatan keragaman ras pada karyawannya berbanding lurus dengan kinerja keuangan yang ikut meningkat.

Gagasan Cemerlang
Dalam kesimpulan yang memakai big data dan berasal tumpukan riset beberapa dekade belakangan, ada yang kemudian meragukan apakah peningkatan inovasi perusahaan berasal dari faktor keragaman yang ada di dalamnya. Katherine kemudian menunjukkan bahwa riset dengan subjek penelitian grup yang lebih kecil, semisal kumpulan peserta didik di ruang akademik, memberikan kesimpulan serupa: keragaman membantu memberikan output dengan nilai yang lebih tinggi.

Katherine memaparkan karya Richard Freeman, profesor ekonomi di Harvard University, yang meneliti identitas etnis dari 1,5 juta penulis karya ilmiah terbitan tahun 1985-2008. Hasilnya, tulisan yang dihasilkan oleh kelompok dengan anggotanya yang beragam secara etnis memiliki kutipan sumber yang lebih banyak dan dampak ilmiah yang lebih besar ketimbang karya dari kelompok dengan anggota yang homogen atau berasal dari satu ras yang sama.

Dalam penelitian yang berkolaborasi dengan Wei Huang, ekonom Harvard dan kandidat PhD itu, ditemukan bahwa karya-karya yang dikerjakan dalam kolaborasi ilmuwan antar-etnis lebih menjadi rujukan bagi penelitian-penelitian dengan tema serupa selanjutnya. Lebih lanjut, para penulis dalam kelompok yang beragam itu juga terdiri dari latar belakang geografis dan disiplin yang lebih beragam. Mereka membawa lebih banyak referensi, pun merefleksikan keragaman intelektual.

Katherine menegaskan bahwa sesederhana menyusun sebuah kelompok atau susunan struktur dalam organisasi atau perusahaan dengan resep keragaman saja memiliki manfaat positif. Yakni menyadarkan serta memberi kepercayaan pada orang-orang yang bersangkutan bahwa rekan-rekan dengan warna kulit hingga gender yang berbeda itu memiliki cara pandang yang berbeda. Ini berefek pada perubahan sikap menjadi lebih bijak dan berempati.

Contohnya pada studi tentang pengambilan keputusan juri dari Samuel Sommers dari Tufts University di tahun 2006. Dalam sebuah eksperimen menunjukkan bahwa kelompok beranggotakan ras yang beragam memiliki pertukaran informasi yang lebih luas selama musyawarah tentang kasus kekerasan seksual dibandingkan kelompok yang anggotanya kulit putih semua. Ini membantu dalam menghasilkan keputusan yang lebih sesuai dengan prinsip keadilan.

Katherine membayangkan jika pemahaman ini dipahami oleh pengajar generasi muda di mana pun berada dan kemudian menyebarkannya pada peserta didik, maka peserta didik itu akan tumbuh sebagai manusia yang paham bahwa keragaman, selain tak bisa ditolak keadaannya, juga memiliki manfaat pragmatis alih-alih hanya jargon kenegaraan semata. Katherine di akhir tulisannya bahkan menambahkan “grup exercise” untuk diaplikasikan dalam forum agar keragaman itu menjadi rahmat, bukan kutukan.

Homogenitas, dalam pandangan Katherine, akan membuat seseorang cenderung stagnan dan susah maju, terutama di ranah akademik. Apalagi saat ia keluar dari zona nyamannya dan bertemu dengan orang dari beragam latar belakang. Bagai katak dalam tempurung.

“Beginilah keragaman bekerja,” kata Katherine. “Ia mempromosikan kerja keras dan kreativitas, mendorong pertimbangan alternatif bahkan sebelum interaksi antar orang berlangsung. Jika ada rasa sakit dalam gesekan dalam keragaman itu, anggap saja latihan. Agar otot Anda tumbuh. Akhirnya toh ia akan menghasilkan keuntungan.”

“Dengan demikian, kita membutuhkan keragaman itu—dalam tim, organisasi, dan masyarakat secara keseluruhan—jika kita ingin berubah, berkembang, dan berinovasi,” pungkasnya.

Sumber: Akhmad Muawal Hasan – 18 Januari 2017, Tirto 

Komentar Anda

komentar