Sejak Buddha Gotama memulai pembabaran Dhamma sekitar 26 abad silam, ada begitu banyak khotbah yang disampaikan. Khotbah tadi bermacam-macam bentuk dan durasinya.

Mulai dari yang pendek hingga yang panjang; dari yang terdiri atas satu kalimat sampai yang satu wacana penuh; dari yang berupa puisi hingga yang berbentuk diskusi. Semuanya lengkap disampaikan kepada para siswa-Nya.

Meski begitu, di antara sekian banyak khotbah yang diberikan, hanya ada sedikit yang memuat informasi tentang kepribadian Buddha. Alhasil, kita jadi lebih banyak tahu tentang ajaran-Nya alih-alih sosok personal dari Buddha itu sendiri.

Kepribadian Buddha sebetulnya cukup penting diketahui. Sebab, kalau kita mengenal kepribadian-Nya lebih dekat, maka hal itu bisa menumbuhkan rasa hormat terhadap Buddha dan membantu kita dalam memahami ajaran-Nya dengan lebih baik.

Umumnya orang-orang mengenal Buddha sebagai pribadi yang penuh welas asih. Dalam sejumlah sutta, Buddha sering disebut mempunyai sifat welas asih yang begitu agung. Sifat ini sudah terlihat sejak ia masih anak-anak.

Sebut saja kejadian ketika Pangeran Siddhattha menyelamatkan seekor angsa yang terluka terkena anak panah yang dilesatkan Pangeran Devadatta. Pada waktu itu, ketika Pangeran Devadatta ingin membunuh angsa tadi, Pangeran Siddhattha berupaya mencegah hal itu.

“Karena angsa ini masih hidup, maka ia bukan milikmu,” kata pangeran, sambil mengobati luka angsa tadi. “Siapa pun yang melindungi kehidupan, maka sesungguhnya ia adalah pemilik kehidupan.”

Devadatta tentu saja tidak terima. Ia berusaha merebut angsa itu karena merasa bahwa ia-lah yang sudah menangkapnya. Namun, upayanya terus dihalangi oleh Pangeran Siddhattha.

Karena masalah ini belum ada solusinya, maka keduanya kemudian menghadap ke dewan kerajaan. Setelah mendengar duduk perkaranya, maka dewan kerajaan memutuskan bahwa Pangeran Siddhattha-lah yang berhak atas angsa tadi karena ia mencoba menyelamatkannya dari marabahaya.

Selain cerita tadi, sesungguhnya masih ada banyak kejadian lain yang memperlihatkan betapa welas asih-nya Buddha. Alhasil, karena cukup sering ditampilkan, maka jangan heran, kalau ada banyak khalayak yang hanya mengenal Buddha sebagai orang yang begitu welas asih terhadap makhluk lain.

Di luar itu, sebetulnya masih ada kepribadian lain dari Buddha yang cukup menarik dibahas. Di sejumlah referensi, saya menemukan beberapa informasi tentang kepribadian Buddha yang cukup jarang diungkap.

Salah satunya berasal dari Ensiklopedia Tipitaka yang disusun oleh G.P. Malalasekera, seorang Sarjana Buddhis yang sangat terpelajar. Biarpun di dalam buku itu, ia tidak menyebutkan secara spesifik kepribadian Buddha, namun, lewat uraian yang ditulisnya, saya bisa merangkum sedikitnya 3 kepribadian Buddha yang mungkin belum banyak diketahui.

Senang menyendiri
Meskipun hidup di tengah-tengah masyarakat, Buddha sering menghabiskan banyak waktu-Nya dengan menyendiri dalam kesunyian. Hal ini bisa dilihat dari rutinitas yang dilakukan Buddha pada pagi hari.

Sehari-hari Buddha rutin bangun pada waktu subuh. Sebelum matahari terbit, Ia biasanya sudah mandi, bermeditasi, dan bersiap melakukan pindapatta. Semua aktivitas ini umumnya dilakukan secara mandiri.

Saat berpindapatta, Buddha sering pergi diiringi oleh para bhikkhu. Namun, dalam sejumlah kesempatan, jika ada orang yang berpotensi tercerahkan, maka biasanya Ia akan pergi sendirian.

Meskipun tempat yang dikunjungi-Nya sangat berbahaya, namun Buddha tidak gentar. Sebut saja peristiwa ketika Ia datang menyadarkan Angulimala. Pada waktu itu, Ia pergi menemui Angulimala tanpa disertai seorang pun.

Sebelum memasuki hutan tempat Angulimala tinggal, ada beberapa penduduk yang memperingatkan Buddha atas bahaya yang bakal dihadapi-Nya. Namun, Ia hanya tersenyum, dan terus melanjutkan perjalanan-Nya. Selebihnya, seperti dimuat di sutta, Buddha berhasil mencerahkan Angulimala.

Kejadian lain yang cukup menarik ialah ketika Buddha pernah membubarkan sekelompok bhikkhu yang membikin keributan. Kegaduhan semacam ini dianggap begitu mengusik keheningan, sehingga Buddha perlu bertindak tegas demikian. Alhasil, pada kesempatan berikutnya, keributan tersebut sudah tidak ada lagi.

Para bhikkhu kemudian menghormati perilaku Buddha ini dengan menjaga keheningan sewaktu Ia sedang berada di tengah-tengah mereka. Makanya, setiap Buddha hadir, mereka biasanya akan menghentikan perbincangan yang dilakukan sebelumnya sehingga suasana menjadi sunyi.

Walaupun Buddha begitu suka kesendirian, namun bukan berarti perilaku ini bebas dari kritikan. Kritikan tadi biasanya berasal dari para petapa dari aliran lain, yang memandang Buddha sebagai orang yang “antisosial”. Biarpun begitu, Buddha tampaknya tidak menanggapi kritikan tadi, dan terus menjalani hidup-Nya dengan penuh ketenangan.

Mempunyai integritas yang tinggi
Baik sebelum maupun sesudah tercerahkan, Buddha dikenal sebagai orang yang berintegritas tinggi. Ia jujur, bisa dipercaya, dan tepat janji. Ia mengatakan apa yang pernah dilakukan-Nya, dan melakukan apa yang dikatakan-Nya.

Sebuah contoh yang memperlihatkan hal ini adalah ketika Ia berjanji kepada Raja Bimbisara bahwa Ia akan datang ke kerajaannya begitu berhasil mendapat “obat” yang bisa mengatasi kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian. Setelah mencapai pencerahan, Ia tidak lupa janji yang pernah diucapkannya terdahulu. Ia datang dan membabarkan Dhamma di sana.

Harus diakui, kepribadian ini memperlihatkan bahwa Buddha hidup sesuai dengan ajaran-Nya. Orang seperti ini sesungguhnya begitu langka. Jarang sekali ada orang yang sangat menjunjung integritas demikian.

Karena kata-kata Buddha bebas dari dusta, maka jangan heran, kalau ada begitu banyak orang yang meyakini, meresapi, dan menembusi ajaran-Nya. Alhasil, ajaran-ajaran yang disampaikan-Nya pun bisa awet sampai sekarang.

Sangat murah senyum
Walaupun rupang Buddha yang terdapat di sejumlah wihara atau candi umumnya memperlihatkan sosok Buddha yang duduk bermeditasi dengan wajah serius, namun, sebetulnya kepribadian Buddha tidak serius-serius amat.

Buddha dikenal sangat murah senyum. Saat ada orang yang datang menemui-Nya, Ia akan tersenyum, membuat orang tersebut merasa nyaman di dekat-Nya, lalu mengajarkan Dhamma kepadanya.

Perilaku ramah inilah yang membikin orang-orang merasa “sejuk” di dekat-nya. Satu kejadian yang menunjukkan hal ini adalah ketika Rahula mendekati Buddha sewaktu Buddha baru kembali ke Kapilavastu setelah tercerahkan.

Saat berada di dekat Buddha, Rahula berkata, “Ayah, pembawaan-Mu sungguh menenangkan.” Meskipun baru pertama kali berjumpa dengan ayahnya, namun Rahula tidak merasa cemas, khawatir, dan takut. Hal ini bisa terjadi karena Buddha merupakan pribadi yang hangat dan penuh senyum.

Mengetahui kepribadian Buddha secara lebih dekat membikin kita menyadari bahwa sesungguhnya Buddha adalah manusia biasa. Biarpun di dalam sutta sering disebut bahwa Buddha mempunyai sejumlah kesaktian yang begitu luar biasa, sehingga Ia sering dipersepsikan secara berlebihan, namun keagungan seorang Buddha tidak hanya dilihat dari hal itu saja.

Keagungan Buddha yang sejati juga bisa dipandang dari perilaku bajik yang diperlihatkan-Nya. Dalam pelayanan-Nya yang panjang, Ia kerap menunjukkan perilaku-perilaku yang luhur. Alhasil, perilaku itulah yang dapat menjadi suri teladan, sehingga jangan heran kalau kita menaruh hormat yang sedemikian dalam pada-Nya.

Sumber: buddhazine

 

 

Komentar Anda

komentar