Bojonegoro merupakan wilayah yang sedari dahulu dikenal dengan keragaman serta harmoni di dalamnya. Tempat seperti Dusun Jepang di Kecamatan Margomulyo yang merupakan wilayah kediaman masyarakat Samin, atau Kampung Kwangenrejo yang awalnya dikenal sebagai perkampungan warga Kristen Jawa hidup berdampingan dengan umat Islam adalah contoh bagaimana kerukunan agama hadir di Kabupaten ini.

Tak hanya sekedar berbangga atas pencapaian yang sudah ada, berbagai elemen masyarakat tetap berupaya untuk memelihara dan menanamkan nilai toleransi ini pada kaum muda. Rabu hingga kamis lalu (4-5/7) sejumlah elemen kepemudaan dan pemerintah meliputi KNPI, Bamag, Orang Muda Katolik, Pemuda GKI, KP-LIMA dan GUSDURian Bojonegoro menggelar kegiatan Kemah Kerukunan Antar Umat Beragama. Kegiatan ini merupaan kemal lintas iman pertama yang digelar di Bojonegoro. Acara kemah berlangsung di Wisma Toyo Aji Kapas Bojonegoro dan dibuka langsung Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Bojonegoro, KH. Alamul Huda.

Heri, salah satu inisiator kegiatan, yang juga Ketua Gusdurian Bojonegoro, berharap dengan kegiatan ini para pemuda pemudi bisa saling mengenal dan saling menghargai. “Juga untuk menjaga serta melestarikan kerukunan antar agama yang sudah terjadi di Bojonegoro,” tuturnya.

Demi mengurangi kasus bentrok antar umat beragama, khususnya di Kabupaten Bojonegoro, dalam acara kali ini para penyelenggara berharap agar seluruh organisasi keagmaan dan segenap warga Bojonegoro yang terlibat dapat memperkuat tali ukhuwah antara umat beragama.

Acara dibuat sedemikian rupa untuk menumbuhkan kekompakan dan keakraban antar peserta. Panitia sengaja mengemas acara dengan berbagai permainan yang di dalamnya terdapat berbagai pelajaran untuk direnungkan.

Pada acara kemah lintas iman ini materi disampaikan oleh Kapolres, Dandim Bojonegoro juga Direktur TV 9, Hakim Jayli. Yang menarik, selain kegiatan kemah para peserta juga diajak untuk langsung praktik bersosialisasi serta dikenalkan tentang keberagaman dalam sesi kunjungan di tempat ibadah yang meliputi GKI Bojonegoro, Tempat Ibada Tri Dharma (TITD), Paroki Santo Paulus dan Ponpes Alfalah, Pacul.

Dengan berkunjung dan melihat langsung tempat-tempat keagamaan, berharap bisa menumbuhkan sikap saling memahami dan mengerti lintas budaya satu sama lain. Karena itu akan menjadi hal yang sangat penting untuk bisa menjalin kehidupan aman damai tentram diantara kehidupan pribumi.

Sumber: kumparan.com

Komentar Anda

komentar