Satu lagi cerita kehidupan yang harmonis di Indonesia. Masyarakat di Desa Balun hidup rukun dengan keyakinan agama yang berbeda. Islam, Kristen, dan Hindu saling mengisi di desa tersebut. Desa ini pun dinobatkan sebagai “Desa Pancasila” karena keberagaman masyarakatnya.

Letak desa hanya dari Jalan Raya Babat-Surabaya. Secara administratif desa ini masuk dalam wilayah Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Di Balun ada sekitar 4.600 jiwa. Sebanyak 75 persen warganya adalah penganut penganut Islam, 18 persen agama Kristen dan sisanya agama Hindu. Ketiga agama tersebut hidup rukun berdampingan, bahkan ketiga tempat ibadah mereka ada dalam jarak yang berdekatan. Masjid Miftakhul Huda berdiri menghadap lapangan sepakbola. Di seberang lapangan sepakbola, berdiri Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Desa Balun. Sementara ada pura yang berada tepat di belakang masjid.

Kepala Desa Balun Khusyairi mengungkapkan, suasana kebersamaan dan toleransi para warga desa sudah ada jauh sebelum dirinya menjabat kepala desa. “Sama dengan daerah lain, agama di sini juga berkembang turun-temurun. Ada yang memeluk Islam, Kristen dan juga Hindu,” ujar Khusyairi.

Bahkan ketika terjadi peristiwa serangan bom Surabaya pada Minggu (13/5), suasana pedesaan tampak tetap kondusif. Terlebih momentum saat Bulan Ramadhan seperti saat ini, suasana toleransi begitu tinggi.

Ketua Majelis GKJW Desa Balun, Sutrisno mengungkapkan bahwa momentum bulan Ramadan menjadi salah satu contoh bagaimana toleransi begitu tinggi di Balun. “Makanya kami menemui tamu kan ya tidak merokok, meski biasanya saya jedal jedul rokoknya, air putih juga saya masukan. Karena saya tahu tamu sedang puasa,” tutur Sutrisno yang kediamannya hanya berjarak 20 meter Selatan Masjid Miftakhul Huda.

Saat Idul Fitri, pemeluk agama selain Islam saling bersilaturahmi ke pemeluk agama Islam untuk mengucapkan Idul Fitri. Begitupun saat kaum Kristiani merayakan hari raya Natal. Saat perayaan Hari Raya Nyepi, semua masyarakat pun turut mengedepankan toleransinya dengan tak sembarangan keluar rumah.

Di masjid lampu-lampu yang dekat pura dimatikan. Saat salat tidak pakai qori sebelum azan. Hanya azan yang pakai speaker. Kalau Jumatan, khotbah tidak pakai pengeras suara,” ujar Ketua Ta’mir Masjid Miftakhul Huda, Suwito. Bahkan karena toleransinya, umat Kristiani rela mengundurkan ibadah, bilamana umat Islam atau umat Hindu di saat bersamaan sedang menjalani proses ibadah.

Dulu pernah waktu Natal bersamaan dengan Idul Fitri atau Idul Adha kalau tidak salah. Nah, karena umat Islam ibadahnya ditentukan waktu, jadi kami umat Kristen bisa menyesuaikan. Kita undur kebaktian setelah umat Islam selesai salat Ied,” tutur Sutrisno.

Menurut Sutrisno, umat Kristiani tak mempermasalahkan hal tersebut. Bahkan tak jarang di ibadah petang, bila bersamaan dengan jadwal Salat Maghrib, maka ibadah diundur.

Begitupun kalau Muslim, kalau kita sedang ada ibadah bersamaan dengan salah satu waktu salat lima waktu misalkan, ya mereka tidak pakai qori, dan langsung azan menggunakan pengeras suara,” ungkap Sutrisno.

Sementara itu pemuka agama Hindu, Adi Wiyono mengatakan bahwa masing-masing tokoh agama selalu berkomitmen mengedepankan kerukunan baik internal maupun eksternal. “Ya, kalau di Hindu, Darmawacana seperti khutbah di Muslim, kita sebarkan pesan-pesan kerukunan, perdamaian, dan toleransi antar umat,” jelas Adi Wiyono yang juga Sekretaris PHDI Kabupaten Lamongan ini.

Sumber: okezone.com

Komentar Anda

komentar