Kalau melaksanakan shalat lima waktu saya menggunakan penanggalan Syamsiah (matahari/solar) seperti Kalender Masehi, kalau shaum, Idul Fitri dan Idul Adha saya menggunakan penanggalan qamariyah (bulan/lunar) yaitu Hijriyah. Jadi keduanya bagi saya bersifat Islami,” demikian komentar Ki Agus Zaenal Mubarok saat mencoba berargumentasi terkait tidak ada salahnya tahun baru Masehi dirayakan.

Apa yang disampaikan beliau nampaknya mencerminkan betapa penanggalan memang punya kaitan erat dengan spiritualitas. Hampir semua agama di dunia mempunyai cara tersendiri dalam menghitung waktu-waktu hari raya dan ritual tertentu. Meski terkadang kalender memiliki kegunaan praktis seperti waktu menanam, memanen, penanda musim, tapi tetap saja salah satu faktor pendorong dirancangnya kalender adalah untuk penetapan waktu-waktu yang terkait upacara bersama, yang di dalamnya tentu menyimpan makna dan penghayatan suatu keyakinan.

Secara umum, cara manusia menghitung penanggalannya terbagi tiga. Yang menekankan perhitungan pada peredaran matahari (solar/surya/syamsiah), bulan (lunar/chandra/qamariyah), atau benda langit lain seperti bintang (sidereal/kartika/falakiyah). Mungkin berdiri sendiri, mungkin saling terkombinasi satu sama lain. Sehingga kita mengenal ada kalender yang solar, seperti Kalender Masehi yang lazim dipakai sekarang. Ada pula yang lunar seperti Kalender Hijriyah. Juga ada  yang luni-solar (seperti Kalender Tionghoa dan Kalender Yahudi) atau sidere-solar (seperti Kalender suku-suku Indian) atau paduan ketiganya (Kalender Koptik, Persia dan semua turunan Kalender Hindu-Sanskrit).

Yang menarik, kalender itu ternyata bisa memberi petunjuk jejak-jejak perjumpaan teologis, yang mau tak mau menjelaskan kompleksitas keagamaan yang melatari suatu masyarakat dan komunitas agama.

Masyarakat Eropa misalnya, meski telah ribuan tahun memeluk keyakinan Kristiani, masih menyisakan historisitas religi awal mereka dalam nama hari dan bulan di Kalender. Dalam Bahasa Inggris kita masih memelihara nama hari yang didedikasikan untuk skuad dewata Nordik, Germanik dan Latin. Ada hari untuk Dewa Matahari (Sunday), Bulan (Monday), dewa perang Nordik Tiw (Tuesday), Wodin, Thor, Freija dan Saturnus. Juga bulan-bulan yang mengandung nama dewa perang dan dewi kesuburan Romawi (Mars dan Maia). Bahkan perayaan Paskah Kristiani pun sering disebut dengan nama festival yang berbarengan dengan momen itu (Easter).

Kita pun melihat bagaimana kalender Buddhis, yang kini utamanya digunakan dalam mazhab Theravada, juga berasal dari kalender Hindu, dengan penyederhanaan siklus bintangnya. Kalender Bahai yang mengolah kembali kekayaan Kalender Persia setelah mengalami perjumpaan dengan Kalender Hijriyah dan Kalender Masehi. Atau Kalender Jawa yang awalnya identik dengan Kalender Hindu (Saka), menjadi sepenuhnya lunar mengikuti Kalender Hijriyah, namun tetap mempertahankan angka tahun sakanya.

Bahkan, apa yang kita kenal sebagai Kalender Masehi, yang didedikasikan untuk Al-Masih (Kristus) pun berasal dari kalender lunar Romawi kuno. Lalu oleh Julius Caesar – yang terpengaruh oleh kehebatan orang Mesir mengkalkulasi hari, barangkali sekaligus juga karena kemolekan Cleopatra – diganti menjadi kalender solar.

Imperiumnya yang besar menjadikan kalender buatannya itu sebagai kalender internasional. Lantas tiga ratusan tahun kemudian, umat Kristiani ‘membaptis’ kalendernya itu menjadi Kalender Kristen. Semua demi memenuhi kebutuhan agar hari raya Paskah, lepas sepenuhnya dari pengaruh perhitungan Kalender Yahudi.

Biarawan Dionisius Exigus menambah kontribusi dengan menjadikan tahun kelahiran Kristus sebagai pembagi masa di kalender yang sebelumnya tidak berangka tahun itu. Maka kita pun mengenal istilah tahun Sebelum Masehi (Inggris: Before Christ, BC) dan tahun Masehi (Latin: Anno Domini, tahun Tuhan kita, AD). Belakangan, karena tahu hitungan Dionisius setidaknya berselisih lima tahun dari aslinya kelahiran Yesus, juga demi kalender ini lebih diterima secara universal, istilah Before Common Era (BCE) dan Common Era (CE) jadi lebih sering dipopulerkan.

Juga jangan lupa, reformasi kalender di era Paus Gregorius XIII, yang merevisi Kalender Romawi-Julian-Kristen itu, awalnya pun kurang diterima oleh negara-negara yang mayoritas Protestan, apalagi di Eropa Timur yang Ortodoks. Rusia misalnya, baru mengadopsi kalender Gregorian selepas Revolusi Bolshevik 1917. Sebagian besar Gereja Ortodoks juga tetap memakai Kalender Julian sebagai panduan.

Sekali lagi ada identitas dan pergumulan spiritualitas dalam kalender. Maka, jika kita melihat kalender sipil yang sekarang lazim kita gunakan di Indonesia, kita pun bisa tersadar akan kompleksitas religi-spiritualitas masyarakat kita:

“Kita memakai Kalender Masehi Gregorian, yang dengan sadar sering kita sandingkan dengan Kalender Hijriyah, Kalender Tionghoa dan Kalender Jawa. Sehingga setidaknya ada tiga atau empat tahun baru yang kita rayakan dalam setahun Masehi. Kita pun masih bisa bertahun baru lebih dengan menoleh ke banyak sekali kalender tradisional dengan sistem penanggalannya yang unik dan kaya. Pun beberapa hari libur kita dihitung dengan Kalender Hindu-Bali, Buddha dan sejumlah kalender lain.

 

Kita tetap memakai nama Bulan Romawi tapi menamai hari-hari dengan istilah Semitik, semisal Senin (Arab: Itsnin, Ibrani: Seni), Selasa (Arab: Tsulaatsaai , Ibrani: Selisi), plus satu hari dengan istilah Portugis-Katolik, yaitu Minggu (Deominggus, hari Tuhan). Meski demikian siklus pekan kita masih terpengaruh siklus lima hari Jawa (ada Pasar Minggu, Senen, Rebo, Kamis dan Jumat, tapi kita sungkan menamai Pasar Selasa dan Sabtu).”

Nah, bukankah tergambar kekayaan spiritualitas bangsa ini? Kenapa tidak dinikmati dalam perjumpaan bersama? **bdjt

Komentar Anda

komentar