Selama awal tahun, di media sosial dan berita nasional bersileweran kabar tentang tenggelamnya KM Zahro di perairan Muara Angke (1/1). Berita itu beriring sanding dengan sejumlah kasak-kusuk, semisal persidangan Ahok, imbas gerakan 212, kenaikan pengurusan bea balik nama kendaraan, kisah calon gubernur Jakarta dan banyak cerita politik lainnya.

Tapi ada satu cerita unik terkait KM Zahro. Kalau di banyak berita lain, biasanya pro dan kontra akan tetap memanas mengiring pembicaraan. Tapi ini ada satu episode, dimana hampir semua orang memilih untuk berkomentar takzim.

Tenggelamnya kapal itu jelas masih tetap melahirkan komentar nyinyir. Beberapa pejabat, pemilik kapal dan banyak masyarakat masih berlomba menyalahkan juga menggugat terkait penyebab kecelakaan. Sebagian juga masih menyalahkan lambatnya penanganan, buruknya kebiasaan bertransportasi, bahkan kecewa mendalam yang masih terkait rivalitas politik dan isu-isu sektarian.

Namun tidak untuk kisah kecil ini. Kisah pengorbanan seorang pria empat puluh tahun, bernama Jackson Wilmus. Orang yang kerap disapa JW itu diberitakan rela berkorban demi menyelamatkan seorang ibu yang tengah mengandung. Hekson, adik JW, mengaku kakaknya sebenarnya tidak bisa berenang. Tapi JW merelakan pelampungnya untuk dipakai oleh si ibu. Si pria sederhana itu akhirnya tewas tenggelam.

Sumber Foto: gerilyapolitik.com

Muncul suatu penghargaan yang tak terbayang sebelumnya, saat publik mengetahui bahwa JW adalah seorang penganut Katolik dan ibu yang akhirnya selamat itu adalah seorang muslimah. Ribuan komentar simpatik mengalir deras. Hampir semuanya memuji kepahlawanan bersahaja dari JW. Tidak hanya dari umat Katolik, banyak sekali rekan-rekan Muslim menganggap JW adalah seorang martir, seorang yang syahid.

Keluarga yang ditinggal JW, meski penuh duka, mengaku bangga akan kepahlawanannya menolong sesama tanpa memandang bulu. Bagi mereka dan mungkin banyak umat Kristiani JW adalah wujud ugahari dari perintah Kristus: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Yohanes memakai istilah Yunani ‘philos’ untuk mencatat kata ‘sahabat’ di perkataan Yesus itu. Kata ini mengindikasikan keterbukaan. Tidak harus ada hubungan darah, etnis atau agama. Siapa saja umat manusia bisa bersahabat sepanjang mereka rela berbagi rasa, pengalaman, cinta-kasih, bahkan seluruh kehidupan.

Bagi para pegiat toleransi, tindakan JW semakin membenarkan ajaran Gus Dur bahwa tidak penting apa pun agama atau suku kita, sepanjang kita bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua, orang tidak akan pernah mempersoalkannya.

JW juga menegur kita semua dengan teladan nyata. Para penggede, pejabat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan pegiat toleransi atau isu kemanusiaan mungkin saja akan masih berdebat soal konsep toleransi, bagaimana seharusnya negara mengelola keberagaman, bagaimana kita bisa mempraktikkan sikap beragama yang ramah dan membumi serta banyak hal penting lain. Tapi semuanya itu takkan pernah bisa melampaui pentingnya perbuatan baik dan tulus bagi sesama manusia, apapun latar belakangnya.

Maka sembari melepas kepergian JW, ada baiknya kita turut menghayati teladan orang-orang seperti ini. Mulai dari mereka yang terkenal sampai yang paling bersahaja. Di jalinan yang merajut negeri bernama Indonesia, selalu ada orang yang rela berkorban demi sahabat-sahabat sebangsanya tanpa perlu membeda-bedakan agama maupun suku. Ada para tokoh besar seperti para pahlawan nasional kita, ada pula yang bersahaja seperti Riyanto sang anggota Banser dan rekan kita JW ini, atau bahkan orang tanpa nama namun bernyata karya.

Requiescat in pace JW, semoga teladan pengorbananmu yang melampaui para penggede dan kami semua, bisa terus tumbuh di hati anak bangsa. **ds

Komentar Anda

komentar