Sekitar pukul 12.00 siang di hari Jumat (30/3), suara azan untuk salat Jumat dari pengeras suara Masjid Istiqlal berkumandang. Sejumlah laki-laki mengenakan baju koko dengan celana panjang ataupun sarung mulai memasuki kawasan masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut.

Selang beberapa menit kemudian, terdengar bacaan Sabda Tuhan yang dilantunkan oleh lektor Gereja Katedral yang berlokasi di seberang Masjid Istiqlal, Jumat. Secara bersamaan, dua rumah ibadah beda agama tersebut melaksanakan ibadah. Masjid Istiqlal melaksanakan ibadah Salat Jumat dan Geraja Katedral melaksanakan ibadah Jumat Agung.

Ketika lektor gereja memandu jemaah menyanyikan lagu-lagu pujian di seberang sana khatib Masjid Istiqlal juga menyampaikan khotbah Jumat. Suara lektor dan khatib dari pengeras suara dari kedua tempat ibadah tersebut saling bersahutan dan terdengar jelas. Namun, pelaksanaan ibadah keduanya tetap berjalan dengan khidmat.

Tentu saja toleransi pun bisa mewujud dalam laku keseharian di dua tempat ibadah yang sering menjadi ikon keberagaman Indonesia itu. Seperti terkait masalah perparkiran. “Memang biasanya parkir itu disediakan (Masjid Istiqlal) karena kami tidak punya lokasi parkir. Biasanya untuk pelaksanaan ibadah yang kedua dan terakhir (pukul 15.00 WIB dan 18.00 WIB),” kata Humas Gereja Katedral, Susyana Suwadie di Gereja Katedral, Jakarta, Jumat.

Sementara itu, ibadah Jumat Agung di Gereja Katedral Jakarta dihadiri 1.200 jemaat. Ibadah yang didahului Jalan Salib ini berlangsung khidmat. Susyana Suwadie, mengatakan Jalan Salib ini merupakan visualisasi penghormatan terhadap Kristus. “Biasanya ada tablo, tapi kali ini dibuat dalam bentuk lain, yakni visualisasi Jalan Jalib,” ucapnya.

Visualisasi ini melibatkan personil dari Orang Muda Katolik (OMK). Kurang lebih 20 anggota OMK yang tampil menyukseskan visualisasi Jalan Salib pada Jumat Agung. Susyana menyebut, visualisasi ini terbagi dalam 14 tahap dengan tema khusus memulihkan kemanusiaan. Di sela-sela Jalan Salib, OMK menyuguhkan adegan yang mendeskripsikan perbedaan. Mereka juga mengajak jemaat untuk menjaga kebinekaan. “Jadi sengaja diselipkan unsur-unsur kebinekaan karena kita membawa tema besar Paskah, yakni menerapkan Pancasila,” paparnya.

Apa yang terjadi di Jumat siang ini pun sekali lagi menjadi pengingat bahwa bangsa kita merangkul perbedaan. Hal itu pun terlihat jelas di jantung Indonesia, di Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta ini. Tempat orang sedari dulu mencuplik contoh keberagaman Indonesia.

Sumber: liputan6.com

Komentar Anda

komentar