Dubes RI untuk Rusia, Muhammad Wahid Supriyadi, mengundang warga Rusia yang selama ini mencintai Indonesia untuk bertemu dengan delegasi Kementerian Luar Negeri yang berada di Moskow untuk mengikuti pertemuan ke-2 dialog antar agama dan antar media antara Indonesia dan Rusia. Pertemuan itu berlangsung pada Kamis (13/9) di KBRI Moskow.

Delegasi Indonesia dipimpin Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Cecep Herawan. Anggota delegasi antara lain staf khusus Presiden untuk urusan agama di forum internasional Siti Ruhaini Dzuhayatin, cendekiawan Muslim Azyumardi Azra, Kepala Hubungan Internasional Majelis Buddhayana Indonesia, Philip K. Widjaja, Sekjen PGI, Pdt. Gomar Gultom dan kolumnis Uni Lubis.

Tugas saya adalah membangun hubungan antara masyarakat di negara mitra seperti kalian dengan masyarakat Indonesia,” kata Cecep. Menurutnya, kontak antar warga menjadi bagian penting dalam menjembatani hubungan antar bangsa, termasuk dengan Rusia. “Indonesia dan Rusia adalah dua negara besar. Keduanya anggota G20. Memiliki kesamaan dalam hal kemajemukan budaya, multi etnis, dan kebebasan menjalankan agama,” tuturnya.

Meskipun memiliki kesamaan, keberadaan warga Rusia yang bersedia memahami budaya dan bahasa Indonesia belum cukup untuk mewujudkan pemahaman yang baik di antara satu sama lain. “Banyak orang di Indonesia yang masih menganggap Rusia itu komunis. Padahal Partai Komunis di sini hanya menguasai 11 persen suara di parlemen,” kata Dubes Wahid.

Dirjen Cecep berharap dialog antar agama dan media diharapkan menjadi pilar penting kontak antar warga untuk membangun pemahaman satu sama lain.

Maret lalu, Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi berkunjung ke Rusia dan bertemu dengan Menlu Rusia Sergey Lavrov. “Kedua negara menyadari ada kesamaan tantangan yang dihadapi untuk mengelola masyarakat yang majemuk dan beragam. Saat itu disepakati untuk foum dialog kedua, seperti yang diadakan sekarang,” kata Cecep.

Menurut Cecep, pemimpin antar agama dan media memiliki peran kunci dalam menumbuhkan perdamaian, toleransi dan harmoni sosial, seraya mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia. Dialog antar agama dan media yang kedua bertujuan untuk mencari solusi yang inovatif atas tantangan bersama.

Pada dialog pertama yang diadakan pada 1-2 Juni 2009, kedua negara sepakat bahwa dialog adalah cara paling penting dalam masyarakat yang majemuk dan damai. Media diharapkan peran aktifnya dalam membangun dan melestarikan kondisi hidup bersama secara damai.

Dalam dialog kali ini tema itu diperkaya dengan beragam bahasan. Mulai dari tren terkini dan tantangan mengelola kemajemukan, berbagi pengalaman antar kedua negara dalam promosi toleransi dan harmoni. Dibahas pula pendekatan lunak yang dilakukan Indonesia dalam program deradikalisasi teroris. Dalam sesi antar media dibahas peran media dalam membangun toleransi di masyarakat yang majemuk.

Sepuluh tahun ini dunia berubah cepat. Tantangan makin besar. Kedua negara hadapi masalah berkaitan dengan ekstrimisme, terorisme dan radikalisme,” ujar Cecep.

Sumber: idntimes.com

Komentar Anda

komentar