Kerjasama Indonesia dan Norwegia di bidang kemanusiaan dan promosi perdamaian semakin erat dengan diselenggarakannya Dialog Lintas Agama dan Media yang pertama pada 30 September sampai 1 Oktober 2019 di Oslo, Norwegia. Dialog tersebut melengkapi Dialog Hak Azasi Manusia (HAM) yang telah menjadi salah satu pilar hubungan bilateral kedua negara sejak 2002.

“Indonesia dan Norwegia sebelumnya telah punya Dialog HAM yang monumental dan sangat konstruktif bagi kedua negara. Hubungan yang telah terjalin baik tersebut kemudian ditingkatkan lagi dengan kegiatan Dialog Lintas Agama dan Media ini. Isu-isu HAM dan peningkatan kultur toleransi memang merupakan salah satu fokus kerjasama bilateral kedua negara,” jelas Cecep Herawan, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, yang bertindak sebagai Ketua Delegasi RI pada kegiatan dimaksud.

Norwegian Centre for Human Rights sebagai bagian dari University of Oslo dan didukung oleh Kementerian Luar Negeri Norwegia bertindak sebagai tuan rumah Dialog tersebut. Dialog diikuti oleh delegasi yang terdiri dari wakil pemerintah, pemuka agama, intelektual dan pelaku media dari kedua negara.

“Saya berharap dialog lintas agama semacam ini dapat menjamin keberlangsungan masyarakat majemuk baik dalam hal keberagamaan maupun kebangsaan, dan pada akhirnya diharapkan dapat dicapai perdamaian abadi,” tutur Todung Mulya Lubis, Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, dalam kata sambutannya seperti disampaikan dalam rilis pers KBRI Oslo, Kamis (3/10/2019).

“Kesempatan untuk berdialog berperan penting dalam membangun saling pengertian dan menangkal prasangka-prasangka buruk satu sama lain,” tutur Jostein Leiro, Duta Besar untuk Isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan Norwegia, dalam pidato pembukaannya.

Forum dialog membahas isu-isu terkini yang tidak hanya berkembang dan menjadi tantangan di kedua negara, namun juga di tingkat global, seperti pengelolaan masyarakat majemuk, pencegahan berkembangnya intoleransi dan ekstremisme disertai kekerasan, kebebasan pers dan tanggung jawab media, serta penggunaan perangkat siber untuk penyebaran paham ekstrem, radikal, dan ujaran kebencian.

Para pembicara dari kedua negara setuju bahwa kultur dialog merupakan langkah awal yang diperlukan dalam menghadapi tantangan-tantangan global terkait meningkatnya intoleransi dan ekstremisme. Selanjutnya, diperlukan pelibatan berbagai pemangku kepentingan dalam menciptakan masyarakat yang harmonis. Selain peran Pemerintah, secara khusus para pembicara memberikan perhatian kepada peran pemuka agama, media massa dan media sosial, serta pemuda dalam mencegah berkembangnya intoleransi dan ekstremisme.

Pembicara dari Indonesia pada forum dialog tersebut antara lain Prof. Syafiq Mughni (Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban), Pendeta Gomar Gultom (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia), Agus Sudibyo (Dewan Pers Indonesia), Jati Savitri (Media Group), dan Rudi Sukandar (The Habibie Centre).

Sementara, pembicara dari Norwegia antara lain Gunar Stalsett (Religions for Peace), Senaid Kobilicia (Muslim Dialogue Network), Inggrid Rosendorf Joys (Cooperation Council for Religion and Life Stance Communities), Bente Sandvig (Norwegian Humanist Association), Shoaib Sultan (Anti-Racist Centre), Gunnar Kagge (Aftenposten / Norwegian Press Complaint Commission), Elisabeth Eide (OsloMet) serta perwakilan dari Kementerian Keadilan dan Keamanan Publik, Kementerian Dalam Negeri dan Modernisasi, serta Kementerian Kebudayaan.

Selain melakukan diskusi pada forum dialog, para delegasi juga melakukan kunjungan lapangan ke situs-situs keagamaan, antara lain ke Oslo Domkirke/Katedral dan Masjid Al-Noor (lokasi penyerangan teroris sayap kanan pada 10 Agustus 2019) dan berdialog dengan pemuka agama di masing-masing rumah ibadah.

Pada kesempatan kegiatan tersebut, Prof. Syafiq Mughni juga telah memberikan kuliah umum di University of Oslo dengan tema “Membangun Perdamaian Dunia”. Dalam kuliah yang dihadiri oleh sekitar 50 akademisi dari University of Oslo dan masyarakat Umum, Prof. Syafiq Mughni mengidentifikasi akar-akar munculnya intoleransi hingga terorisme serta membeberkan upaya-upaya yang harus dilakukan dalam menciptakan perdamaian global.

Dialog Lintas Agama telah menjadi fitur tetap diplomasi publik Indonesia sejak 2004. Norwegia adalah mitra bilateral Dialog Lintas Agama Indonesia yang ke-33. Indonesia juga aktif mempromosikan Dialog Lintas Agama pada tataran inter dan intra-regional, seperti Asia-Pacific Regional Interfaith Dialogue, ASEM dan MIKTA, serta pada tataran global/ multilateral, seperti melalui forum UNAOC.

 

Sumber : detik.com

Komentar Anda

komentar