Dua perempuan muslim terlihat berdiri Kampung Toleransi Puncak Liur, Desa Ranamese, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur. Mereka mengenakan pakaian adat Manggarai Timur lengkap dengan kerudungnya. Mereka lalu mengalungkan selendang congkar kepada Imam Katolik, Pastor Rikardus Karno, Projo.

Itu terjadi awal bulan lalu (2/10). Pastor Rikardus yang merupakan Imam Keuskupan Ruteng baru selesai menerima Sakramen Imamat dari Administrator Apostolik Keuskupan Ruteng. Setelah misa pentahbisan di Paroki, Pastor Rikardus dijemput keluarga Katolik dan Muslim dari Kampung Puncak Liur untuk merayakan syukuran imamatnya di kampung halamannya.

Tak lama kemudian, ratusan umat muslim dan Katolik yang hidup berdampingan di kampung itu, menjemput di pintu gerbang kampung. Mereka menyambutnya dengan sejumlah ritual adat. Intinya, mereka bersyukur dan bahagia atas rahmat imamat yang diraih Pastor Rikardus.

Sambutan pun dilakukan dengan tradisi umat Islam dan Katolik. Imam Masjid Fatahilla Kampung Puncak Liur, Yakub Ladus pun ikut menyambut sang imam baru dengan kepok adat. Baik umat Islam maupun Katolik, mereka mengenakan pakaian adat Manggarai Timur. Mereka bersila di atas tikar dan melantunkan bahasa adat setempat sebagai tanda penyambutan imam baru Katolik yang berasal dari Kampung Toleransi Liur.

Yani Abdul Tahir, salah seorang guru agama Islam di Kampung Toleransi Liur, menjelaskan persaudaraan umat Islam dan Katolik di Kampung Toleransi Liur sudah terjalin sejak kampung ini didirikan. Hubungan itu terjalin karena pertalian kekeluargaan yang sangat erat. Warga disini umumnya punya hubugan darah juga berasal dari keturunan yang sama.

Kami sebagai umat muslim yang masih ada hubungan kekeluargaan dengan imam Katolik itu merasa bersyukur dan ikut merasakan kebahagiaan atas rahmat imamat yang diterimanya,” jelas Yani.

Sementara itu anggota Keluarga Pastor Rikardus, Oktavianus Dalmin menjelaskan, persiapan syukuran imam Katolik tersebut dilakukan bersama dengan umat Muslim. “Mulai dari rapat persiapan syukuran, dekorasi, penjemputan, ritual adat, dan berbagai keperluan untuk kesuksesan syukuran itu selalu bersama-sama dengan keluarga muslim,” ungkapnya. “Sesungguhnya orang Liur selalu menyebut keluarga muslim dan Katolik karena masih ada hubungan kekeluargaan lewat perkawinan maupun keturunan yang hidup bersama-sama di kampung tersebut,” lanjut Oktavianus.

Dalam berbagai kegiatan, tak hanya soal penahbisan imamat, warga Liur selalu bersama menggelat ritual adat secara turun temurun. Pastor Rikardus Karno, sendiri mengakui mengaku, tradisi penjemputan dan pengalungan dengan kain selendang congkar bukan dibuat-buat. Ini hanyalah satu bagian kecil dari hal yang biasa terjadi karena persaudaraan mereka dan kedekatan mereka sejak lama.

Saya lahir dan dibesarkan serta sekolah bersama dengan saudara dan saudari yang menganut agama Islam,” kenangnya. Sejak kecil, ia bersama saudara muslim kerap menjalankan aktivitas bersama. “Khusus bagi saya bersyukur menjadi Imam Katolik di tengah-tengah keluarga besar Muslim dan Katolik,” ungkap Pastor Rikardus bangga.

Sumber: kompas.com

Komentar Anda

komentar