Saya tidak pernah bersikap ekstrim, kecuali soal nasi briyani kesukaan saya,” ungkap komedian Amerika, Jeremy McLellan, disambut tawa para pendengarnya. Beranjak lebih jauh sang komedian yang dikenal sebagai penganut Katolik itu pun menambahkan punch-line. “Saya kira perpecahan terbesar dalam masyarakat Muslim Amerika bukanlah soal Sunni atau Syiah, tapi soal apakah nasi briyani boleh ditambah kentang atau tidak,” lanjutnya yang kemudian ditanggapi tawa oleh para pendengar yang berlatar Muslim.

Bisa jadi Jeremy mungkin sesekali kelewatan berncanda. Ia bahkan pernah disalahpahami sebagai seorang penganut Muslim, oleh pendengar yang tidak tahu latar belakangnya. Namun, Jeremy meyakini sekali humor adalah cara yang baik untuk membangun dialog dan kedekatan.

Humor-humor seperti itu banyak dilontarkan oleh Jeremy dalam sejumlah kesempatan dialog antar warga Amerika Serika selama bulan Ramadhan tahun ini. Menurutnya, banyak hal sebenarnya yang merupakan kesamaan antara umat Islam dan umat Kristiani di Amerika Serikat. Misalnya saja kedua tradisi punya masa berpuasa, untuk banyak menahan diri dan beramal, meski aturannya berbeda.

Jeremy ingin sekali mengurangi intoleransi, terutama di masa sekarang ini saat muncul banyak ketegangan yang tidak perlu sebagai respon atas berbagai situasi.

Hal senada diungkap oleh rekan Jeremy saat membuka dialog. Imam Talauid, salah seorang ulama Islam mengaku humor adalah hal yang penting di dalam hidup. Bahkan Nabi Muhammad juga bersabda tentang menghibur hati di saat-saat tertentu.

Nabi juga menggunakan humor saat berinteraksi dengan para sahabat, juga rekan-rekannya yang non-Muslim,” lanjut Talauid. ”Jadi bagi warga Muslim Amerika Serikat, juga umat Muslim pada umumnya, ketika akan membangun dialog lintas iman, lakukanlah dengan ceria, jangan terlalu serius,” sarannya.

Di Indonesia kita tentu mengenal baik kebiasaan yang disebut oleh dua tokoh Amerika Serikat tersebut. Alamarhum K.H Abdurrahman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan nama Gus Dur adalah contoh paling gemilang menunjukkan bagaimana humor bisa menjadi jembatan dialog lintas agama yang paling efektif. Sampai sekarang humor-humornya bahkan masih sangat banyak dikoleksi dan beredar di kalangan pegiat dialog.

Sumber: voaindonesia.com

Komentar Anda

komentar