Seorang rabbi dan seorang romo Katolik sedang mengikuti petemuan lintas agama. Di sela-sela acara mereka sempat duduk untuk ngobrol bersama. “Apakah di struktur Gereja Katolik ada semacam kenaikan jabatan, katakanlah Anda dipromosikan untuk tanggung jawab yang lebih besar?” Tanya sang rabbi.

Ya, tentu bukan seperti jabatan duniawi. Tapi benar memang ada peningkatan tanggung jawab. Saya, misalnya sebagai seorang pastor paroki, bisa jadi kemudian diserahi tugas-tugas lain di Keuskupan,” jawab romo.

Lalu setelah itu, posisi apa lagi?

Bisa jadi ada tanggung jawab provinsial dari ordo imamat kami, atau tugas khusus di wilayah yang lebih luas. Saya mungkin akan disapa dengan sebutan monsignor.

Lalu setelah itu, kalau Anda dipromosikan lagi jadi apa?

Mungkin bisa saja menjadi seorang uskup.

Lalu setelah itu?

Ya, kalau tanggung jawabnya di wilayah yang lebih besar, mungkin saja menjadi Uskup Agung,

Setelah itu?

Mungkin saja dianugerahi gelar kardinal, kalau dinilai berjasa bagi Gereja.

Setelah itu?

Yah… dengan kemungkinan yang sangat kecil dan kalau itu menjadi pilihan Tuhan, mungkin saja bisa terpilih menjadi Paus,” sang romo sudah mulai kesal dengan pertanyaan terus menerus itu.

Setelah itu apa lagi?

Ya ampun… mana saya bisa jadi Tuhan?” Sang romo sudah semakin kesal.

Kenapa tidak? Seorang anak Yahudi saja bisa.

Keduanya akhirnya tertawa.

Sumber: beliefnet

Komentar Anda

komentar